Apakah Kiamat Datang Lebih Cepat?
6 mins read

Apakah Kiamat Datang Lebih Cepat?

 

Ada buku yang kutuntaskan dengan cepat.

Ada yang justru mengendap berdebu, bukan karena kumalas membukanya. Tapi justru, karena aku terlalu takut untuk membaca lembar demi lembar yang ada di dalamnya. Judulnya sudah menyiratkan kejujuran yang coba kutepis, beranggapan (tepatnya : berharap) itu hanya kebohongan belaka. Apa yang terjadi di Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar dll) lalu disusul wilayah Jawa Timur seperti Malang, Jember; beberapa wilayah Jawa Tengah seperti Guci, Tegal; Bandung – Jawa Barat serta kota-kota lain yang luput kusebutkan – seolah semua bagian bumi sedang berteriak. Membentak kita. Manusia harus segera mawas.

Salah satu halaman buku The Uninhabitable Earth

 

Banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa Aceh serta sebagian Sumatera lainnya, bukan satu-satunya yang harus kita waspadai. Buku The Uninhabitable Earth membuat catatan panjang tentang apa saja ancaman bagi dunia yang perlu mulai kita sikapi dengan (sangat) serius. Ketidak pedulian kita terhadap alam, energi dan sumberdaya bumi lainnya menyebabkan bencana datang kepada manusia bertubi-tubi.

 

Apa saja kekacauan yang bakal terjadi bila manusia tone-deaf terhadap climate change?

Kota yg tak lagi dapat dihuni karena udara beracun, tanah tandus, kekurangan air bersih. Ilustrasi canva AI

1. Panas maut. Seperti apa panasnya bumi di tahun 2030, 2050, 2100?

Timur Tengah dan Teluk Persia akan menjadi bagian yang terpanas, bahkan suhu diperkirakan bisa menjadi 72 derajat celcius. Petani tebu di El Salvador akan mengalami gagal ginjal karena dehidrasi akibat panas yang terlalu tinggi. Ibadah haji bagi kaum muslimin diperkirakan makin berat dari tahun ke tahun karena suhu yang terus meningkat.

Kehidupan kota besar mengharuskan manusia melepas gas emisi makin besar ke udara : AC, kendaraan, semua alat listrik.

 

2. Wabah akibat panas. Ada bakteri-bakteri yang terjebak dalam bekuan es selama puluhan ribu hingga jutaan tahun. Seiring dengan melelehnya es di kutub, bakteri-bakteri itu pun hidup kembali. Satu wabah di zaman dahulu bisa menghabisi 1 kota, 1 kerajaan, 1 benua. Tampaknya ancaman itu bukan hal mustahil di masa sekarang.

Pada tahun 2015, ⅔ populasi saiga sedunia tetiba mati, yang disebut sebagai “megadeath” . Penyebabnya adalah bakteri pasteurella multocida yang hidup di amandel saiga bergenari-generasi tak pernah mengganggu inangnya. Namun tetiba bakteri itu mengalami pertumbuhan pesat yang masuk ke aliran darah, menyebar ke hati, limpa dan ginjal.

Penyebabnya, tempat-tempat saiga mati berubah menjadi lebih hangat dan lembab.

 

3. Konflik peperangan. Apa hubungan konflik dan iklim? Ketika hasil panen menurun drastis, masyarakat bisa goyah. Guncangannya dapat memicu pertengkaran politik yang memiliki imbas perang perebutan sumber daya. Perubahan iklim membuat konflik dunia naik 3%. Artinya, kenaikan suhu dapat menciptakan dua hingga enam perang tambahan di atas muka bumi. Dari tahun 1980-2010, 23% konflik perang terjadi saat bencana iklim berlangsung. Negara-negara yang dikategorikan mengalami masalah rawan pangan, akan menjadi negara yang penuh konflik.

4. Kekurangan air. Masa sih? Bukankah 71% planet ini tertutup air? Nyatanya, tak semua air itu bisa digunakan manusia, sebab hanya 2% yang berupa air tawar. Air sejumlah itu untuk 7 miliar manusia, belum lagi air dibutuhkan untuk produksi pangan dan pertanian, juga industri. Asia, daerah yang berlimpah sumber daya air termasuk negeri kita Indonesia, diperkirakan akan kesulitan air tawar di tahun 2050. Akibat perubahan iklim dan bumi yang makin menghangat, danau-danau pemasok air tawar mengering. Namun, danau atau sumber daya air yang bertahan bukannya tak memiliki ancaman. Danau Tai di China yang masih bertahan dengan sumber daya airnya, tumbuh bakteri penyuka air hangat hingga membuat 2 juta orang tak dapat lagi mengkonsumsinya. (Ingat poin : wabah akibat panas)

5. Udara yang tak dapat dihirup. 10.000 manusia tewas setiap hari karena polusi hari ini (lebih banyak orang tewas karena polusi udara dibanding lelehan reaktor nuklir). Tahun 2090 diperkirakan 2 milyar manusia akan menghirup udara yang tidak aman. Polusi udara bukan hanya merusak pernapasan. Bagi otak, polusi udara ternyata juga menjadi penyebab dari buruknya ingatan, perhatian (ADHD) dan kosakata. Bayi yang terpapar sebelum, di masa dan sesudah kehamilan ibu; akan rentan mengalami gangguan spektrum autisme.

6. Tenggelam. Atlantis tenggelam yang diceritakan oleh Plato, tampak eksotis dalam cerita-cerita. Pada kenyataannya, kisah eksotis itu menjadi mengerikan jika dijabarkan di dunia realita. Tiongkok mengevakuasi ratusan ribu orang tiap musim panas agar tak terjangkau banjir Delta Sungai Mutiara. Jakarta, disebutkan khusus dalam buku The Uninhabitable Earth sebagai kota yang tumbuh paling cepat dan diperkirakan tenggelam tahun 2050. Apakah kisah Jakarta yang tenggelam akan se-eksotis Atlantis?

Ilustrasi kota yang tenggelam, canva AI

 

Ulasan tentang Jakarta yg akan tenggelam 2050

 

Masih ada beberapa poin mengerikan lagi yang dijabarkan dalam buku ini seperti : Kelaparan, Ambruknya Ekonomi, Kebakaran, Bencana yang Tak Lagi Alami.

 

Buku ini memberi vibes negatif usai membacanya. Rasanya ingin menangis dan meratapi mengapa dunia yang kita tinggali saat ini, yang akan kita wariskan pada anak cucu tercinta, adalah dunia yang kacau. Namun, manusia adalah khalifah fii ardh. Penguasa bumi. Seharusnya tulisan Wallace-Wells tidak membuat kita putus asa dan potong kompas ingin segera mati. Justru, apa yang bisa kita lakukan dari diri sendiri dan keluarga? Perubahan kecil dan positif insyaallah bisa memberi arti.

“Ah, satu orang musuh sejuta orang, apa artinya?”

“Rakyat gak akan berdaya hadapi oligarki!”

“Orang kecil selalu yang disuruh ngalah dan cari solusi, sementara penyebabnya para kapitalis!”

 

Di pundak kita keputusan masa depan harus diambil hari ini.

 

Akan mengumpat dan menyalahkan keadaan, atau berbuat sesuatu yang kecil tapi berkesinambungan?

 

  1. Hemat air. Mandi dan wudhu, usahakan seefisien mungkin.
  2. Hemat listrik. Kalau masih memungkinkan gak pakai AC dan kipas angin, pakailah angin alami. Matikan lampu-lampu bila tak dipakai
  3. Kalau bisa pakai kendaraan umum, lakukan. Kalau tidak bisa, baru pakai kendaraan pribadi
  4. Kelola sampah dengan sebaik mungkin.
  5. Berusaha menanam tanaman di lahan kecil rumah.
  6. Healthy life-style. Kembali ke alam. Tak harus menghamburkan uang untuk gaya hidup yang bisa memboroskan sumber daya alam.

 

Itu yang bisa dilakukan rakyat kecil, seperti kita ya. Bagi pejabat dan mereka yang berwenang, tentu harus mengambil tindakan yang lebih bijak dalam skala luas.

Buku yg lumayan mengerikan utk dituntaskan

Bumi yang Tak Dapat Dihuni 

David Wallace – Wells

#reviewbuku #bukubagus #nonfiksi

One thought on “Apakah Kiamat Datang Lebih Cepat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *