Arab, belajarlah bangkrut dari Indonesia : catatan kecil dari Ummul Quro University

 

(Tulisan ini telah dishare di facebook, lebih 1000x)

 

Umroh, 2018 – Sungguh kejutan tak terduga, ketika sahabat saya, putri Kyai Syamsul Arifin dari pesantren Banyuanyar- Pamekasan mengajak hadir ke salah satu acara munaqosyah di Ummul Qura University, Makkah. Munaqosyah di Ummul Qura adalah ujian mempertahankan penyusunan thesis dari seorang mahasiswa.

Bergetar hati ini ketika menginjakkan kaki di universitas, tempat Imam Saud al Shuraim dan imam Abrurrahman As Sudais menyelesaikan studi. Inilah universitas yang melahirkan para pemikir tingkat dunia, yang ternyata bukan hanya menghasilkan ahli agama tetapi juga pakar sains dan ilmu sosial.

Taqi, Sinta, Amani.JPG
Taqi, Sinta dan Amani

Sebuah kisah indah meluncur dari Taqiyyah Arifin, putri Kyai Samsul Arifin yang tengah menyelesaikan studi magister syariah di Ummul Qura. Nasihat ini ia rangkum dari seorang dosennya, duktur Faizah yang merupakan salah satu ahli edukasi, pengajar dan pemikir kebanggaan dari Ummul Qura. Beliau suatu hari memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa Arab, Indonesia, dan mahasiswa berbagai belahan dunia yang lain.

“Dahulu, kafilah haji Indonesia adalah kafilah terkaya. Tidak ada peziarah yang lebih kaya dari kafilah Indonesia. Mereka memakai alat tukar emas! Setiap kali bertransaksi, orang-orang Indonesia menggunakan emas,” jelas duktur Faizah. “Tetapi sekarang lihatlah, orang Indonesia menjadi pembantu di negeri kita. Wahai kalian mahasiswa Arab, belajarlah dari Indonesia!

Kalau kalian tidak belajar, bisa jadi anak cucu kalian akan berbalik, menjadi pembantu di Indonesia. Apakah kalian tahu, apa yang menyebabkan Indonesia bangkrut seperti sekarang?”

Para mahasiswa menanti dengan tegang, tenang, hening, hanyut dalam irama nasihat duktur Faizah.

Duktur Faizah melanjutkan, “Israf.  Bersikap berlebih-lebihan. Itulah yang membuat Indonesia bangkrut. Lihat orang Arab sekarang, beli baju satu, lalu dibuang tak dipakai lagi.”

Tergetar hatiku mendengarnya.

 

Israf.

Betapa banyak di kondangan pernikahan, orang ambil makanan lalu menyisakan sayur, daging, nasi? Padahal ia bisa mengambil secukupnya.

Israf. Betapa banyak baju menumpuk di lemari, padahal Marie Kondo dari Jepang yang terkenal dengan metode Konmari menjelaskan : jangan simpan dan tumpuk barangmu yang hanya akan membuatmu menderita!

Israf. Betapa berlebihan kita membuang waktu untuk bersenang-senang, sementara saudara-saudar kita yang berasal dari Nigeria, Uganda, Mali berupaya menghafal Quran meski derita kelaparan dan perang saudara mengintai.

Israf. Betapa berlebihan kita membuang uang, sementara saudara-saudara kita dari pelosok jauh Srilanka, Bangladesh, Myanmar bahkan bertelanjang kaki dan tidur di pelataran masjid; semata-mata ingin berumroh menapak tilasi semangat juang Ibrahim as dan Muhammad Saw.

Israf. Betapa senangnya kita berlebihan dalam perkara sunnah, lalu mengabaikan yang wajib, dan merasa sudah unggul dengan segala yang kita punya, yang sudah kita lakukan.

Israf.

Dan nasihat akhir duktur Faizah sungguh meremas, mengiris, mencincang hatiku.

“Jangan pernah mengeluh atas hidup kalian yang penuh derita, sebab memang tidak ada keberkahan di sana!”

Kenangan di Az Zahir, apartemen mahasiswi Ummul Qura, Makkah ~ Sinta Yudisia

 

 

 Taqi dan Sinta di areal Ummul Qura

 

Asrama putri Ummul Qura, bagian muka Ummul Qura dan beberapa peraturan di Ummul Qura

 

 

Catatan umroh bersama @hasanahtoursurabaya

0 thoughts on “Arab, belajarlah bangkrut dari Indonesia : catatan kecil dari Ummul Quro University”

Leave a Comment