Bagaimana Mengelola Emosi Negatif ?

Ada aja yang buat orangtua naik pitam saat pandemic dan anak2 belajar di rumah :

  • Yang lagi belajar daring, trus ada anak-anak tetanggan manggil : “Main yuuuuk!” lalu si anak serta merta melempar tugas daringnya dan lari ke luar.
  • Ada anak yang kayaknya pegang gadget, belajar daring….eeeeh, ternyata nyambi-nyambi. Nyambi stalking idol, nyambi gaming, nyambi lihat postingan IG. Alhasil , tugas daring gak selesai-selesai. Guru pusing, ortu apalagi.

Emosi manusia ada yang positif dan negatif. Gak semua emosi negatif itu buruk, justru kadang merupakan alarm, ada yang gak beres dengan diri kita dan lingkungan kita. Wajar orangtua marah ketika lihat anak-anaknya gak beres dengan urusan kemandirian, tanggung jawab dan pelajaran daring. Tapi, bagaimana dengan hadits Rasulullah yang terkenal ?

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.”

Bukankah itu berarti orangtua gak boleh marah?

Kalau kita lihat hadits tersebut bila dikaitkan dengan hadits2 yang lain bagaimana cara Rasulullah Saw mengajarkan mengelola marah dengan cara : diam (stay calm) , berganti posisi (relaksasi) , mengambil air wudhu (aktivitas distraksi)  maka Rasulullah Saw tidak hanya melarang marah dan membuat orang hanya memendam perasaannya saja. Tapi justru beliau mengajarkan cara mengelola dan menyalurkannya agar marah itu terkendali, dan kalau pun keluar dalam skala yang proporsional.

Dan kalau marah suatu saat meledak (namanya manusia, kadang ada kondisi yang tidak tertahan dan tidak dapat dikontrol) Rasulullah Saw pun menganjurkan untuk banyak istighfar dalam segala kondisi. Disamping hadits-hadits lain tentang bagaimana mengikuti perbuatan yang buruk dengan kebaikan-kebaikan yang banyak.

Ada kisah menarik seorang ibu yang selalu marah, naik pitam setiap kali pulang kerja. Salah satu yang biasa dilakukan untuk melampiaskan marah adalah dengan mengumpat kasar kepada anak-anaknya. Pada akhirnya, alhamdulillah, dia berhasil mengatasi kondisi tersebut. Bagaimana caranya?

  1. Mencermati kapan marah – biasanya jam 5 sore, menjelang pulang kerja
  2. Kenapa marah – campur aduk pikiran antara tugas kantor yang belum selesai dan pekerjaan rumah yang menghadang
  3. Bagaimana marah – mengumpat kata-kata kasar walau  tidak main tangan
  4. Keinginan berubah – sangat ingin berubah tapi bingung gimana caranya

Biasanya, setelah seseorang dapat mendeskripsikan masalahnya dengan detil, dia mulai bisa melihat bagaimana cara mengatasinya. Ibu tsb gimana?

  1. Jam 4 sore mulai membereskan pekerjaan. Memberikan motivasi diri bahwa pekerjaan yang belum selesai disimpan saja utk besok. Jam 16.30 mulai emgnhadirkan wajah anak-anak, foto-foto mereka, dan kelucuan. Aura rumah mulai terasa jam 16.30
  2. Kenapa marah – mulai tereduksi ketika menjelang pulang kantor tidak lagi memikrikan pekerjaan kantor. Bayangan rumah pun diganti . bukan lagi anak yang belum mandi, gak mau mau sendiri, rumah berantakan. Berganti kelucuan, spontanitas anak-anak, riuh rendahnya mereka
  3. Mulai memilih kata-kata marah yang lebih positif (ibu tsb termasuk yg temperamental jadi harus berubah bertahap). Misal, tidak lagi bilang “kalian susah banget diatur! Jam segini belum mandi!” tapi diganti dengan à “Iiih, siapa yang jam segini masih bau kecut? Coba udah mandi, pasti tambah ganteng!”

Buat para Ibu yang jadi Guru, semangaaattt!

Yang penting, sebagai orangtua kita harus terusss sama-sama belajar. Yang murid belajar daring efektif, yang guru belajar daring efektif, yang orangtua belajar segala hal agar semua berjalan efektif 😊

Diselenggarakan oleh KOPI (Komunitas Orangtua Pintar Indonesia ) yang diselenggarakan oleh ibu-ibu di Surabaya

Leave a Comment