Catatan Kasar /Outline Novel Nona Jepun (2)

Sebelum menuliskan novel atau buku non fiksi, aku terbiasa membuat kerangka kasar. Sulit bagiku untuk langsung berimajinasi dan menumpahkannya ke dalam kata-kata. Walaupun bisa seperti itu, pastinya butuh waktu lebih untuk merangkai secara imajiner di otak.

Daripada terlalu lama  berpikir, berimajinasi, berkhayal yang justru tidak menimbulkan karya jadi; aku memilih membuat semacam mind map. Karena aku termasuk jenis orang yang visual; coretan-coretan kasar ini harus warna warni agar menarik dan nggak membosankan.

Catatan kasar ini juga sering disebut outline.

Apa kelebihan membuat catatan kasar, atau kerangka kasar, atau outline, atau garis besar ini?


1️⃣

Cerita dapat lebih terstruktur sejak awal atau akhir. Kalau ada pengembangan, tidak terlalu jauh melenceng.💡

Melenceng kayak apa sih?

Misal, kita akan membuat cerita adventure sepasang sahabat yang menabung lama untuk bisa jalan-jalan  ke Seoul, Korea Selatan. Tanpa outline, cerita itu akan ngelantur menjadi thriller, horror, romance; bahkan banyak bumbu-bumbu yang kemungkinan gak relevan dengan tema utama cerita.

Pikiran seorang penulis sangat kreatif, imajinatif, dan bahkan sesekali ….liar. wajar saja, karena otak kita sedang teraktivasi untuk melakukan lompatan-lompatan ; yang seringkali merupakan gabungan dari perangkat logika dan situasi emosional.

Kalau lagi stabil, eh…ceritanya oke tuh alurnya. Kalau perasaan lagi bad mood, cerita juga ngelantur sesuai kondisi batin si penulis. Nah, kalau yang ditulis diary sih gak masalah ya. Tapi ini naskah yang akan dibaca banyak orang. Isi kepala orang, pengalaman masing-masing, bahkan bisa jadi beliefs or keyakinan sangat berbeda. cerita  yang terstruktur bisa bikin pembaca dan penulisnya sendiri…bingung!


2️⃣

Outline membuat pikiran terus ter-refresh dengan tema utama cerita. Termasuk karakter tokoh, konflik, dan berbagai macam rencana yang sudah terpatri di benak.💡

Misal, kita ingin membuat cerita tentang tokoh cewek yang tangguh. Kadang, karena terdistraksi oleh film atau berbagai gangguan luar; karakter itu tiba-tiba melenceng jadi cewek yang annoying, manja atau julid. Karakter tangguhnya hilang seketika gegara pikiran juga lagi ngelantur ke mana-mana. Outline membuat pikiran yang liar tertarik kembali ke pusat cerita rencana semula.

Apakah gak boleh ada perubahan karakter?

Tentu aja boleh. Perubahan karekter karena sebuah situasi yang sudah dipersiapkan, bahkan bisa menjadi kekuatan cerita. Tetapi perubahan karakter yang tiba-tiba gegara gegabah dan gak konsisten menulis, bukanlah bangunan cerita yang baik.

Sering gak liat fenomena kayak gini?

Cewek yang tadinya nyebelin, kasar, seenaknya sendiri, selalu punya kemauan untuk dituruti; tetiba jatuh cinta pada seorang pemuda sholih dan langsung berubah total dari penampilan hingga karakter. Dia yang biasa mengumpat-umpat lalu suka mengutip ayat. 

Wah, karakter seseorang harusnya gak berubah sedrastis itu walau lagi mabuk kepayang!

Dia bisa jadi cinta setengah mati sama cowok sholih, tapi  sifat seenaknya sendiri gak mudah hilang. Apalagi, cewek macam gini yang biasanya sangat mandiri; tetiba menjadi penurut dan pasrah banget.

Outline akan menyelamatkan dari ketidak-konsistenan cerita.

Boleh aja fall in love in the first sight , tapi logika cerita tetap harus berjalan. Boleh aja ada kejutan-kejutan dalam cerita, tapi logika cerita tetap harus diperhatikan.


3️⃣

Kebosanan.💡

25%? 50%? 75%? Atau 90%?

Banyak penulis yang bosan sama tulisannya sendiri pas ½ jadi. Atau ½ belum jadi hehehe (tergantung kita ini masuk golongan optimis atau pesimis). Ada yang justru ketika hampir jadi, malah dilanda kebosanan yang banget, banget, banget. Sampai-sampai tulisan tertunda lama.

“Tulisanmu udah jadi?”

“Dikit lagi nih!”

Kalau teman-teman, mentor, editor nanyain ; kita juga jadi geram sama diri sendiri. Kok gak jadi-jadi, sih??? Padahal tinggal seujung kuku lagi jadi (maksudnya seujung kuku kaki Godzilla, kwkwkwk)

Outline membantu agar kebosanan itu bisa diminimalisir. Karena mind map-nya, intisari cerita, juga warna warni spidol yang membuat mata jadi terhibur. Apalagi kalau ada tempelan-tempelan stiker seperti scrapbook.

🟠OUTLINE NONA JEPUN

Aku membuat outline Nona Jepun beberapa pekan, bahkan bulan. Bagiku, menulis bisa selesai 3-4 bulan tapi buat outline bisa memakan waktu lebih lama. Wah, kok bisa?

  • Butuh referensi
  • Karakter tokoh dipersiapkan matang
  • Nyari nama tokohnya aja bisa berhari-hari
  • Setting tempat bisa berubah-ubah. Untuk memutuskan 2 tempat sebagai setting utama cerita yaitu Balamoa dan Banjarmasin, perlu mencari referensi yang cukup dulu
  • Tadinya, mau langsung fokus di daerah Purwekerto yang memiliki sejarah Rumah Papak yang sangat erat dengan jugun ianfu. Tetapi karena kuanggap korelasinya dengan ladang tebu tidak kuat, setting ini diubah
  • Ladang tebu merupakan salah satu wilayah yang sudah lama kuidamkan untuk tampil di cerita, karena merupakan salah satu sejarah yang erat dengan Tegal, kampung halaman suamiku

🟠APAKAH OUTLINE NONA JEPUN  100% DIPAKAI?

Tidak.

Ada yang dihilangkan karena mempertimbangkan jumlah halaman, dan kekhawatiran bahwa cerita akan terlalu bertele-tele. Bahkan menjadi membosankan.

Tapi sesungguhnya, outline yang kusiapkan sudah terbayang seperti apa jika dibuat beberapa seri bukunya. Semisal, kehidupan Mirah dan Ndaru sebagai gadis di masa penjajahan Belanda. Dan kehidupan keduanya pasca Jepang angkat kaki

Namun , outline sungguh-sungguh membantuku untuk menyusun cerita dari awal hingga akhir. Tentu, ketika cerita sudah jadi dan dibaca ulang; ada hal-hal yang terasa “kurang” dan perlu ditambahkan.

Alhamdulillah, Nona Jepun menjadi salah satu pemenang pilihan juri dalam ajang sayembara novel DKJ 2021.⭐⭐

Doakan agar dapat terbit dengan sebaik-baiknya, ya…

🌟 Yang mau baca catatan pertama tentang Nona Jepun (1) , silakan ke mari ya 👉🏻 https://sintayudisia.wordpress.com/2022/02/10/nona-jepun-perjalanan-mencari-ide-1/

Leave a Comment