Catatan Sayembara Novel DKJ 2025 (2) : Akan Dibawa ke Mana Naskah Kita?
4 mins read

Catatan Sayembara Novel DKJ 2025 (2) : Akan Dibawa ke Mana Naskah Kita?

Coaching Clinic selama 3 hari sejak tanggal 6-8 November 2025 benar-benar memperkaya sudut pandangku terkait naskahku sendiri. Aku mendengarkan apa masukan para dewan juri bagi masing-masing penulis dan masukan-masukan bagi para pemenang adalah koreksi bagi naskahku sendiri.

 

Apa impian seorang penulis?

Naskahnya dipinang banyak penerbit, naskahnya terbit di penerbit mayor, terpampang di toko buku, laku keras dengan predikat best seller, royalti mengalir deras, cetak ulang berkali-kali dan akhirnya dialih wahanakan : menjadi film, menjadi series, menjadi sinetron. Ohya, jangan lupa. Naskahnya menang penghargaan di berbagai festival dan juga diterjemahkan ke banyak bahasa. Wah! Tapi, sebuah naskah ternyata tidak selalu punya akhir seperti itu semua.Mbak Hetih Rusli, Mbak Ratih dan Mbak Ninus memberikan banyak masukan.

Kita benar-benar harus tahu : menulis itu akan ditujukan ke mana?

 

Ingin dialihwahanakan ke film/sinetron/series

Cerita-cerita dengan tema keseharian yang sangat populer, cocok untuk tujuan ini. Istri yang dikhianati, cinta tak sampai, kehidupan metropolis, drama gen Z, horror dan sejenisnya akan relate banget dengan kondisi masyarakat. Lokasi cerita pun tak boleh di tempat-tempat sulit. Setting pedalaman, sci-fi, fantasi dan sejenisnya belum bisa untuk difilmkan saat ini. Tempat-tempat seputar sekolah, kampus, cafe, restoran, kantor atau yang serupa dengan itu akan bisa menjadi setting yang mudah untuk divisualisasikan.

 

Ingin laris manis dan diperbincangkan di medsos

Kisah kekinian anak muda dan dunia saat ini dengan segala suka dukanya, bisa menjadi pilihan penulis. Bisa diterbitkan di penerbit mayor, penerbit indie; aplikasi seperti wattpad, kwikku, karyakarsa dll. Genre bisa romance, horror, thriller, fantasi, drama keluarga, detektif, kriminal, dll

 

Syaratnya : harus benar-benar memotret kondisi terkini. Bisa jadi, 2-3 tahun lagi sudah tidak relevan. Penulis mesti kerja cepat agar gak ketinggalan zaman dan lewat momentnya.

Aku masih ingat buku yang kumiliki sekitar 10-15 tahun lalu, buku yang lumayan laris. Novel itu berkisah tentang romansa yang muncul di facebook. Bayangkan kalau novel itu muncul sekarang, belum tentu gen Z mau baca karena mereka bukan pengguna FB, hehe

Ingin menang DKJ dan festival sastra

Karya DKJ berbeda dengan karya-karya untuk tujuan komersil. Walaupun, beberapa karya sastra ‘berat’ pun bisa laris manis di pasaran, yang artinya tercapai pula tujuan komersilnya.

Walaupun setiap 2 tahun juri DKJ selalu berubah, ada beberapa naskah yang menarik dewan juri, meski latar belakang dewan juri berbeda-beda. Juri DKJ biasanya terdiri dari 3 jenis latar belakang : 1) sastrawan 2) akademisi 3) kritikus

Jadi, penulis harus mempersiapkan karya yang memenuhi harapan dari 3 jenis juri tersebut.

Tema naskah apa saja yang biasanya menarik dewan juri?

  1. Tema sejarah Indonesia. Terutama sejarah yang memunculkan konflik antar manusia seperti masa penjajahan Belanda & Jepang, konflik 65, konflik 98, konflik GAM. Superbia O karya Fajar Ariyanto juara I dan Majalah Garpu Lima Puluh Tujuh Tahun karya Beri Hanna masuk ke sini. Nona Jepun yang masuk penghargaan DKJ 2021 masuk ke kategori ini.
  2. Tema sosial politik. Banyak sekali tema jenis ini yang bisa digarap. Bahkan, setting sci-fi pun bisa masuk di sini. Seperti naskah Tuan tanpa Tuan karya Jantan yang berkisah dengan dunia yang dikuasai AI. Tahun 2025, sepertinya hanya naskah TTT yang bertema sains, cmiiw (soalnya nominee masih belum tahu naskah-naskah yang lain kecuali yang satu tim dalam coaching clinic, hehe)
  3. Tema kultural. Sabda Naga Sarpa masuk ke sini, dengan setting fantasi namun kental nuansa Jawa kuno. Begitupun Sumatrabhumi (Rimba Purba) karya Junaidy Michael Angelo
  4. Eksperimen bentuk. Beberapa novel memiliki bentuk yang sangat unik, berbeda dengan novel-novel pada umumnya. Majalah Garpu misalnya, novelnya berkisah tentang sebuah majalah yang dibredel 50 tahun lalu dan baru bisa diterbitkan sekarang. Menarik, kan? Pembaca pastinya penasaran seperti apa sih bentuk dan isi majalah 50 tahun yang lalu. Selain itu novel Dor!Dor!Dor! mengambil eksperimen bentuk yang berbeda. Kalau pembaca pernah tahu novel berjudul Meow, Dor bisa dianalogikan seperti itu.
  5. Potret masyarakat saat ini. Novel Lauk Daun karya Hartari yang mendapat penghargaan tahun 2021 berksiah tentang lockdown di era covid. Begitupun Berat karya Amalia Yunus. Coba tebak, apa isinya hayoo?

 

#sayembara #lomba #novel #dkj #sndkj #sastra #novelsastra #novelindonesia #penulisperempuan #femaleauthor #nonajepun #sabdanagasarpa #literacy #literasi #penulis #writer #author #fantasinusantara #budayaindonesia #budaya #culture #indonesianculture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *