#1 Covid 19 – Virus Cerdas yang Memanipulasi Otak Manusia

Aku penyuka sayur. Pecinta buah. Gemar cemilan. Tak menolak madu dan sari kurma. Suka wangi-wangian. Yang terpenting, aku suka minum air putih.

Sampai kemudian Covid 19 menyeruak ke tengah keluarga kami, menginfeksi 6 orang, 4 di antara kami harus dirawat di RS. Terus terang, babak belur fisik dan psikisku menghadapi penyakit yang satu ini. Virus ini pintar memanipulasi otakku!

APAKAH OTAKKU BERKATA BENAR?

Aku dan 2 putriku dirawat di satu ruangan. Meski kondisi 2 putriku juga lumayan payah, mereka masih bisa tertatih membantuku. Kejadian demi kejadian aneh membuatku heran.

  1. Aku benci sekali putri bungsuku membantuku. Ia lucu, jenaka, cepat tanggap, ringan tangan. Tiap kali mendekati, rasanya aku ingin berteriak marah-marah. Kenapa aku ini? Lambat laun kusadari, ia memakali baju yang berbau wangi. Wangi khas pelembut dan pewangi pakaian. Aku benci semua pakaian yang kubawa dari rumah, jilbab, semua yang berbau wangi!
  2. Aku sangat suka sayur. Apalagi sayur yang disajikan warna warni merah, kuning, hijau. Hanya sebentar, karena berikutnya aku membenci semua jenis sayuran. Terutama aroma segarnya yang selama ini membuatku berselera menghabiskan nasi
  3. Kelengkeng is one of my favorite. Segar, manis. Dulu kuhabiskan 1 kg sendirian. Sekarang? Tebak saja.

Oke, baiklah. Kata orang-orang itu hanya masalah selera. Namanya orang sakit, mungkin gak suka masakan tertentu. Kupikir demikian. Lalu hal-hal lain yang aneh pun  terjadi.

4.Dari semua obat, ada 1 jenis obat (lebih tepatnya suplemen makanan) berbentuk permen yang sejak awal kusukai karena rasanya manis segar seperti permen mint. Selalu, suplemen bernama Rillus ini kuletakkan paling akhir di antara obat-obat yg lain. Dengan kasus wewangian dan sayur, aku mulai curiga : jangan-jangan Rillus ini nanti juga akan menerima kebencianku. Tepat! Baru tiga kali minum, aku benar-benar membenci benda bernama Rillus

Okelah.

It’s enough for food and medicine. Mungkin aku muak dengan semua obat, injeksi, infus, suplemen, antibiotic, antivirus dan sejenisnya. Mungkin aku butuh makanan selingan. Lalu suatu hari, aku benar-benar menyadari : ada yang salah dengan otak dan diriku.

5. Air putih. Aku memandang gelas berisi airputih. Minuman yang paling kusukai, lebih dari teh dan susu. Cairan ini sama sekali tak punya rasa, warna, bau. Netral! Lalu aku tetiba membenci gelas, botol, apapun tentang air putih! Aku gak mau minum air putih lagi. Heh, apa yang salah dengan diriku, otakku?

BAGAIMANA AKU MENGENDALIKAN OTAKKU?

Aku bersyukur, dokter dan perawat di RSHU ini sangat informatif dan kooperatif. Apapun keluhan kami, mereka memberikan penjelasan dan diskusi panjang lebar. Awalnya aku enggan menceritakan masalahku pada dokter spesialis paru yang mendampingi kami.

“Manja amat!”pikirku. “Aneh dan apa kata orang nanti?”

Tapi akhirnya kuutarakan dan sungguh mengejutkan apa yang beliau sampaikan.

“Memang ini fase terberat dari pasien-pasien saya,” jelas dokter. “Bagaimana virus ini mempengaruhi reseptor, terutama indera. Apapun yang dikatakan oleh virus ini ini : LAWAN!”

Di psikologi, kami  mempelajari bahwa indera, persepsi dan otak sangat berkaitan erat. Lisan kita mengucapkan sesuatu berulang, itu bisa menjadi skema otak, dan otak akan berjalan sesuai skema. Mata dan telinga pun demikian. Aku mulai mencermati, setiap kali aku bilang dan berpikir tentang sesuatu yang kuinginkan, maka sehari berikutnya otakku langsung berkata : itu hal yang kubenci!

Aku bawa buku-buku ke RS, sehari membaca, esoknya aku membenci semua bukuku.

Aku suka Maher Zain, sehari kudengarkan, esok sudah kubenci suaranya.

Aku sayur semacam acar, hanya sehari, berikutnya aku membenci rasa dan baunya.

Awal dirawat kami membawa beberapa bungkus pop mi, siapa tau butuh panas-panas. Malam hari, kumarahi putriku karena membuatnya, “jangan dekat-dekat Ummi! Benci baunya!”

Aku memesan makanan, esok hari bahkan hingga hari ini, makanan jenis itu sangat kubenci!

VIRUS YANG BERBEDA

Kupikir, aku akan tinggal di RS 3-4 hari seperti dulu ketika aku dan anak-anakku pernah dirawat karena tipus dan/atau demam berdarah. Masih kuingat, infus yang hanya sebentar lalu 3 hari setelahnya membaik lalu menyantap makanan apapun dengan lahap. Seperti raja ratu di RS karena apapun dilayani tinggal makan tidur.

Ini hari ke -11 kami dirawat di RS.

Tubuh kami membaik. Namun setelah beberapa hari belakangan aku menyadari kami harus bertempur habis-habisan dengan cara virus mengendalikan otakku. Tapi bagaimana aku bisa makan, minum, kalau otakku menolak memasukkan apapun ke tubuhku?

  • Kucemati diriku, otakku (mungkin dikendalikan virus) memproses informasi 24 jam. Ini hanya dugaanku ya. Maka, ketika aku memesan makanan pada orang rumah, “tolong Ummi dibuatkan oseng kacang,” maka masakan itu harus sudah selesai kumakan segera. Lebih dari itu, aku akan kadung membenci makanan tersebut dan sulit memakannya
  • Nasi. Aku benci betul jenis makanan ini. Maka nasi harus kupindah-pindah cara memakannya. Kadang di mangkuk plastik, di tutup, bahkan makan dg menutup mata!
  • Obat. Kupotong-potong jadi beberapa bagian agar tidak tampak bentuk aslinya
  • Air putih. Kupindah-pindah tempat minumku. Botol kecil , botol besar, gelas disposable, gelas bekas pudding.
  • Karena kucermati proses informasi mulai menengar, membahas, memakan, dll sekitar 24 jam; aku dan anakku membahas sekilas. “Besok mau makan apa?” Kami mengucapkan 1-2 kalimat masakan yang kami inginkan. Lalu diam. TIDAK MEMBAHASNYA LAGI. Misal ingin oseng terong, bahas sekali. Sampaikan ke orang di rumah. Lalu segera memakannya ketika masakan itu tiba di RS. Atau jika kami pesan gofood, tidak membahas masakan itu terlalu banyak. Sehingga otak ini tidak memproses informasi terlalu sering yang kemungkinan, virus itu membaca apa maksud kami.

Baik, virus Covid 19. You’re great!

Kamu makhluk Allah Swt. Kamu  membuat kami membenci apa yang baik, tapi disitulah letak perjuangan kami menaklukanmu.

——————–

Atas : hari Rabu, 17 Maret 2021, saat pertama aku dilarikan ke RS Husada Utama , Surabaya

Bawah : saat menerima transfusi plasma utk mempercepat kesembuhan

————————-

Sejak awal positif aku ingin menuliskan pengalaman penting ini, tapi mungkin, baru di hari ke-17 aku mulai mampu menggerakkan jari jemariku.

Hari ke-11 dirawat di RS

Hari ke -17 positif Covid 19

(Catatan Covid 19 ke-1)

6 thoughts on “#1 Covid 19 – Virus Cerdas yang Memanipulasi Otak Manusia”

  1. Syafakillah, bu sinta yudisia. Iseng nengok blog ibu. Pengen baca tulisan baru, ternyata lagi berjuang. Semoga segera negatif dan bisa menulis lagi.

    Reply

Leave a Comment