Film Buya Hamka : Romance Story, Pesan Parenting & Sikap Pejuang

Kalau anda orangtua, tontonlah film ini. Sebab bisa jadi anda sekeras Haji Rasul dalam mendidik anaknya, Malik. Kalau anda single parent, tontonlah film ini. Karena orangtua Malik atau kelak dikenal dengan nama Buya Hamka, berpisah. Kalau anda seorang istri yang memiliki suami dengan tabiat sangat keras, tontonlah film ini. Kalau anda punya anak banyak, tontonlah film ini. Kalau anda seorang ayah, tontonlah film ini.

Kalau anda ingin memiliki anak dengan karakter kuat dan pemikiran cemerlang , ingatkan nasihat Dr. Abdullah Nashih Ulwan, ulama pakar parenting : ajarkan anak-anakmu kisah epic. Film ini mengajarkan kisah epic yang indah, perjuangan seorang lelaki menjadi suami, ayah, ulama dan pejuang bangsa.

Volume 1 : Full Romance Story

Untung saya bawa sapu tangan. Scene pertama, sudah menguras air mata. Pertemuan penuh rindu Hamka yang tengah dipenjara di tahun 1964, bertemu Siti Raham istrinya yang membawa gulai kepala kakap. Scene kedua yang menguras air mata adalah adegan Hisyam, putra kesayangan Hamka wafat di saat Hamka tengah merintis majalah Pedoman Masjarakat.

Bagaimana Raham senantiasa setia menyuguhkan kopi kepada Hamka ketika sang suami mengetik hingga larut malam, adalah adegan manis suami istri yang pantas di-capture. Hamka, terkenal pula dengan bait-bait sastranya untuk segala situasi : dakwah, politik, sosial, novel dan tentu rayuan cinta.

“Pahit di sini, manis di sana,” goda Hamka ketika menikmati kopi suguhan istrinya.

Quote bapak-bapak yang bisa dikloning, ya! Sembari menyeruput kopi, menggoda istri hingga Raham tersipu malu.

Volume 1 film Buya Hamka menyuguhkan banyak adegan romance suami istri dan ayah bunda mendidik anak. Jadi, jangan langsung dibayangkan penuh adegan heroic perjuangan melawan penjajah yang nanti baru akan muncul di volume 2 dan 3. Tapi, tahukah anda kenapa volume 1 ini justru lebih banyak diangkat kisah suami istrinya?

Aku jadi tahu kenapa Hamka yang keras…

Saya menonton film itu bersama putri saya, Inayah.

Sengaja saya ajak, supaya dari kaca mata anak muda dapat menilai. Awalnya, ia agak terganggu dengan adegan romance yang terasa terlalu panjang. Namun, justru di akhir cerita, ada kata-katanya yang menohok saya sebagai istri dan ibu.

Apalagi, ada spoiler volume 2 yang mengetengahkan betapa kerasnya Haji Rasul memperlakukan istri dan anaknya, Malik (Hamka), hingga terjadi perceraian di kemudian hari. Ya, Haji Rasul dan Ummi dari Malik akhirnya berpisah karena ketidak cocokan dan memang; karakter Haji Rasul amat sangat keras.

Hamka mewakilinya!

“Sekarang aku ngerti, Mi, kenapa Hamka yang sekeras itu bisa bersikap lemah lembut,” Inayah berpendapat. “Ternyata, banyak dipengaruhi oleh istrinya, Raham.”

Hamka dan ayahnya bersitegang tak habis-habis. Kalau kita baca beberapa buku biografi Hamka, akan menyebutkan demikian juga. Haji Rasul sangat menginginkan anaknya merantau jauh, belajar dengan benar, menjadi alim ulama yang disegani. Tapi Malik alias Hamka tidak sesuai harapan orangtua!

Ia bahkan suka menulis roman, hingga dijuluki kiai cabul.

Ia suka menulis cerita cinta, hingga gadis-gadis termehek-mehek membayangkan punya jodoh seperti Zainuddin.

Rahamlah yang membesarkan hati Hamka dan mengatakan, kurang lebih demikian, “biarkan saja orang mengatakan Engku kiai cabul, saya yang lebih mengerti Engku. Dakwah bisa lewat kisah roman, sebab hati akan tergerak dengan keindahan.”

Bertabur quote

Saya pembaca setia karya-karya Hamka. Saya pengagum beliau.

Film ini, menyajikan banyak quote bermakna yang selalu terekam dalam benak. Kalau kita baca buku-buku Hamka : Pribadi Hebat, Dari Lembah Cita-Cita, Buya Hamka Bicara tentang Perempuan, Tasawuf Modern dll, akan ditemukan kata-kata puitis beliau yang sangat mengena. Bahkan jika itu sebuah teguran keras.

Ini beberapa quote yang disampaikan di film Buya Hamka :

  • Politikus dan sastrawan harus berdampingan. Politikus membangun negara dengan struktur pemikiran, sastrawan mengisinya dengan keindahan dan gagasan.
  • Manusia harus bekerja keras. Sebab kera pun bekerja, kerbau pun bekerja.
  • Salah satu pekerjaan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pemikiran cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.

Adegan-adegan Lucu & Poin Istimewa Film Buya Hamka

Jangan dipikir film ini sepanjang jam nangis dan geram, ya. Ada adegan-adegan lucu yang bikin ngakak. Seperti Ola, yang diminta ayahnya untuk menjadi istri kedua Hamka. Asli! Acting Ola benar-benar pas buat orang Makassar yang pakai tambahan ji atau ki di belakang kalimat.

Beberapa point lebih di film ini yang buat kita pingin nonton dan nunggu-nunggu volume 2 dan 3 segera tayang (eh, tonton dulu volume 1 serentak tanggal 20 April ya) :

  1. Acting Vino G. Bastian yang patut diacungi jempol. Acting yang juga mengesankan adalah Laudya Cintya Bella (Siti Raham), Donny Damara (Haji Rasul), Yorike Angeline (Ola)
  2. Keindahan alam Padang Panjang dan setting masa penjajahan yang membuat kita jadi mengharu biru
  3. Wardrobe yang keren! Salah satu yang memikat adalah beragam outfit Siti Raham yang tradisional banget tapi sangat manis dan sesuai zamannya. termasuk outfit Ola dan si gadis merah, Kulsum
  4. Adegan yang heartbreaking banget dengan script pas, terutama yang menggambarkan saat Hamka dianulir posisinya sebagai alim ulama dan ketua Muhammadiyah Sumatera Timur. Inilah bagian yang membuat kita merasa : Ya Allah, segini beratnya ya fitnah sebagai ulama. Keberadaannya ulama dibutuhkan, salah melangkah dihujat habis-habisan padahal ia tengah berijtihad memikirkan ummat.
  5. Film ini berdasar novel karya A. Fuadi yang udah gak diragukan lagi dengan karya-karyanya. Selain lihat filmnya, silakan juga lahap habis novelnya ya!

Nah, yuk.

Nonton bareng-bareng film ini yang cocok banget buat orangtua dan anak-anak, sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Nobar dengan teman-teman pengajian! Dengan teman komunitas baca dan tulis.

Leave a Comment