#HikmahCorona 4️⃣ : Burial Rites ~ Ritus-ritus Pemakaman [jangan pernah meminta mati pada Tuhan!]📚📖📒

Agnes Magnusdottir tak pernah punya teman, ia bahkan tak pernah tahu siapa ayah dan ibunya. Ibu angkat yang dicintainya, Inga, meninggal ketika melahirkan di musim dingin saat badai salju mengamuk dahsyat. Mayat Inga tak bisa langsung dikuburkan, karena pekarangan terlalu beku bahkan ketika musim semi menjelang. Mayat itu harus disimpan di antara jerami, garam dan ikan-ikan asin agar tetap awet hingga tanah agak gembur ketika musim panas tiba.

Berpindah dari satu keluarga angkat ke keluarga angkat yang lain.
Bekerja sebagai pelayan penyabit rumput dan pemerah susu, di lembah-lembah.

💔Satu-satunya teman serta kekasihnya pun mengkhianatinya, dan Agnes dituduh membunuh Natan Ketilsson! 3 orang terdakwa menanti hukuman mati atas pembunuhan terhadap Natan : Fridrik, Sigga dan Agnes. Tetapi, dakwaan atas ketiganya harus menunggu pengesahan dari kerajaan Denmark. Penjara tak mampu menampung penjahat lagi. Maka Agnes Magnusdottir menunggu waktu hukuman tiba dan Komisaris Wilayah Bjorn Blondal memberlakukan sebuah keputusan penting : Agnes Magnusdottir harus ditempatkan di dekat tempat eksekusinya.

Ia diasingkan ke Kornsa, ditempatkan ke sebuah keluarga yang terang-terangan membenci dan menolaknya.
Diperlakukan seperti budak, dicaci sebagai pembunuh, selalu dicemooh sebagai perempuan murahan; lambat laun keluarga Jonsson yang menampungnya mulai berubah.

Jon dan Margret mulai melihat betapa Agnes cerdas dan cekatan bekerja. Dua anak gadis mereka -Steina dan Lauga- yang semula sangat membenci dan ketakutan akan dibunuh Agnes; pun merasakan sosok Agnes berbeda dari yang didakwakan. Terlebih Asisten Pendeta Thorvardur Jonsson yang akrab dipanggil Toti, menemui betapa Agnes hafal kisah-kisah Kristiani dan ia bukanlah gadis bejat.

Steina merasakan kehadiran seorang kakak perempuan, dan Margret merasakan kebahagian melihat 3 gadis di rumah mereka bagai keluarga yag sempurna. Tetapi, sebuah surat pengadilan memporakporandakan kisah cinta mereka yang begitu hangat terjalin. Ketika Agnes merasakan cinta tulus Steina sebagai seorang saudari yang tak pernah dimilikinya, keputusan pengadilan tak dapat diganggu gugat lagi : Agnes harus dihukum penggal.

Burial Rites mengambil setting wilayah Islandia Utara, di akhir abad 19.
Kita akan dibawa oleh diksi menakjubkan Hannah Kent dan seketika membayangkan seperti apa mengerikannya badai salju dan bagaimana kejamnya musim dingin yang hanya bisa diterangi oleh cahaya lilin, lemak ikan paus, serta kotoran sapi sebagai bahan bakar. Tetapi kita juga akan dibawa kepada pengalaman menakjubkan saat Agnes kecil dulu, pertama kali melihat cahaya aurora.

💞✍️
~~~~~~~~~~~
“….Keseluruhan langit berselimutkan warna. Belum pernah aku melihat yang seperti itu. Tirai-tirai raksasa berupa cahaya, bergerak seolah ditiup angin, menggelembung di atas kami. Bjorn benar – tampaknya seolah-olah langit malam sedang terbakar pelan-pelan. Ada sapuan-sapuan warna ungu yang mengembang, berlatar belakang gelap malam serta bintang-bintang yang bertebaran di keseluruhannya. Cahaya-cahaya itu surut, seperti ombak, lalu tiba-tiba disela oleh torehan-torehan baru berwarna hijau ungu yang menukik melintasi langit, seperti jatuh dari ketinggian yang amat sangat.

“Lihat, Agnes!” ayah angkatku berkata, dan dia memutar pundakku supaya aku bisa melihat supaya kecemerlangan cahaya-cahaya utara itu menyoroti gigir gunung menjadi sebuah relief yang tajam. Meski waktu itu sudah malam, aku bisa melihat kaki langit yang bungkuk dan sudah sangat kukenali.
~~~~~~~~~~~~
💞✍️

Di atas adalah salah satu deskripsi memukau ketika Agnes kecil pertama kali melihat aurora. Dan yang sangat menghantam adalah, ketika Agnes diberitahukan oleh Bjorn ayah angkatnya bahwa cahaya utara yang sangat indah itu sebetulnya adalah pertanda cuaca dingin sangat buruk yang sebentar lagi melanda wilayah mereka. Cuaca dingin penyebab kematian Inga, ibu angkatnya.

💞Keindahan dan kepedihan.
Seperti bersisian.
Lucu dan duka, seperti sepasang kekasih.
Tersenyum-senyum sendiri dengan penggambaran penulis tentang peseteruan Steina dan Lauga, dua gadis cantik dan pintar dari keluarga Jonsson yang membuat pusing ibu mereka, Margret. Perempuan zaman dahulu seperti Roslin, kenalan Margret, yang selalu hamil dan beranak banyak. Gosip para ibu ternyata ada di mana-mana, bahkan mereka yang tinggal di lembah-lembah sembari panen atau menanam.

😭😭😭
Dan hati ini, terasa demikian teriris membaca perjalanan hidup Agnes demikian menyayat tanpa pernah menemukan kebahagiaan. Satu-satunya rasa hangat yang pernah mengaliri dirinya adalah ketika tinggal di Kornsa, sesaat menjelang eksekusinya. Kita ikut terbakar oleh kemarahan Agnes pada dunia yang kejam, ikut marah pada para lelaki di masa itu seperti Natan Ketilsson yang begitu merendahkan perempuan. Dan kita akan diajak masuk ke dalam pertarungan pemikiran Agnes yang terus bertempur antara baik dan buruk.
Bagian yang terus menancap di ingatan adalah ketika pendeta Toti menerima kabar bahwa eksekusi Agnes jatuh di tanggal 14 April, dan itu berarti tinggal 6 hari lagi dari masa itu. Jon, Margret, Steina dan Lauga tak bisa menerimanya. Tetapi Toti tak dapat berbuat apa-apa, lantaran Komisaris Wilayah Bjorn Blondal sudah mengancamnya.

Malam hari sebelum eksekusi, Margret membuka peti tempat ia menyimpan barang-barang terbaik. Ia mengeluarkan syal indah rajutannya sendiri, blus putih dan rok hitam panjang. Dulu, awal pertama Agnes tiba, tinggal dan bekerja di rumah mereka; Agnes pernah dihukum lantaran dituduh mencuri bros Lauga. Padahal tidak demikian, karena Agnes sedang membereskan rumah keluarga Jonsson. Dan malam itu, ketika Margret dengan hati hancur lebur menyiapkan baju paling baik bagi Agnes, ia memandang Lauga.
“Brosmu, Lauga.”

Penggalam percakapan antara Margret dan Lauga itu benar-benar mencabikku, karena sejak awal digambarkan betapa Lauga demikian membenci Agnes. Tetapi di akhir hidup Agnes, Lauga memberikan benda kesayangannya, justru ketika ia mulai merasakan mencintai Agnes sebagai kakak.

💞💞💞

Tidak semua diksi indah dalam Burial Rites kuingat.
Tetapi ada penggalan-penggalan quote baik kalimat atau kisah yang masih menancap.
Intinya demikian kira-kira :

✍️😭“Aku ingin sekali menanyakan pada Pendeta Toti, tapi belum sempat kuutarakan. Mengapa hidupku selalu sial, dan Tuhan mencekikku dengan nasib buruk dari hulu hingga ke hilir. Aku ingin tahu apakah Tuhan menghukumku? Lantaran dulu aku sering sekali berteriak-teriak ketika menghadapi sesuatu :
Aku ingin mati! Aku ingin mati! Aku ingin mati!
Apakah permohonanku itu Tuhan lantas menyiksaku?
Ketika kematian itu sudah dekat aku justru berharap ada kesalahan di pengadilan, semua menunggu, dan aku tetap hidup.”

👉Bait ini membuatku sungguh merenung.
Percayalah, kalimatku dengan kalimat Agnes berbeda. Tapi aku lupa melipat diksi itu ada di halaman berapa ☹
Kadang, kita suka melepas omongan di mulut kita semau-mau hati supaya membuat orang jengkel, supaya kita melepaskan nafsu dan supaya lepas jeratan ego. Tetapi, andai kata-kata itu dikabulkan Tuhan , kita mungkin akan menjerit-jerit minta putar haluan.

📚📖📚Buku Burial Rites sudah lama kubeli, tapi tak sempat-sempat kubaca. Selama masa lockdown ini, kami sekeluarga menyempatkan diri hampir tiap hari membaca setidaknya 30 menit di rumah. Novel ini kembali menggoda mataku untuk disentuh dan dibelai, untuk dinikmati. Burial Rites cocok sekali di baca pada ruang masa kini, di mana kita mulai mengkhawatirkan kematian datang memenggal kedamaian dan kebahagiaan. Dulu, suatu masa, mungkin kita pernah begitu kesal pada kehidupan sehingga berteriak pada takdir : lebih baik mati saja! Tetapi, seperti tangisan Agnes menjelang eksekusi, apakah kematian demikian lezat disesap bagai beruang mendamba madu?

🥇Burial Rites adalah novel karya Hannah Kent yang memenangkan berbagai lomba seperti Pemenang The ABIA Literacy Fiction Book of the Year 2014, Pemenang The ABA NIELSEN Bookdata Bookseller’s Choice Award 2014, Pemenang The Booktopia People’s Choice Award 201

3 thoughts on “#HikmahCorona 4️⃣ : Burial Rites ~ Ritus-ritus Pemakaman [jangan pernah meminta mati pada Tuhan!]📚📖📒”

Leave a Comment