Mendengar Kritik & Nasehat Anak

Akhir tahun ini, kami sempatkan untuk banyak diskusi sembari menikmati hiburan yang ada. Kalau dulu biasanya silaturrahim ke keluarga di Tegal, sekarang kangen itu ditunda dulu. Maklum, corona belum menampakkan tanda-tanda melandai.

Film-film blockbuster yang biasanya didominasi Hollywood, tahun ini justru banyak menayangkan film Korea. Selain menonton Key to the Hearts, Along with The God 1, Along with the God 2, Exit, Fatal Intuition; kami juga nonton film-film yang ada di laptop. Sembari mendiskusikannya dengan anak-anak, apa hikmah di balik film tsb dan apa rancangan ke depannya.

Kalau sudah mendengar anak-anak cerita, orangtua seringkali terkesiap!

Oh, gitu ya?

Jadi selama ini itu yang ada di pikiran mereka?

Diskusi paling seru adalah ketika menonton film Captain Fantastic dan Along with The God 1 & 2. Sampai-sampai, karena diskusi ini kurasa menarik untuk diarsipkan, aku membuat mind mappingnya. Siapa tahu  di masa depan, arsip ini bermanfaat buat anak-anakku ketika mereka menikah dan punya keluarga sendiri.

Transformasi Keluarga Tradisional ke Modern

Aku dan suamiku dibesarkan oleh pola tradisional, sementara anak-anak memasuki era millennial. Mereka masih mengkritik bahwa sebagai orangtua kami berdua belum seperti Ben Cash, ayah dari 6 orang di Captain Fantastic. Sebagai orangtua, kami tentu harus banyak belajar. Hal yang sama di 4 kepala anak kami adalah : kami masih terlalu memanjakan mereka.

Hm.

  • 4 anakku baru pegang HP ketika mereka SMP, itupun masih bareng-bareng. Ketika SMA baru boleh sendiri, itupun karena ada tugas-tugas yang dibagikan lewat line/whatsapp.
  • Anak-anak yang cowok sampai SMA masih naik sepeda onthel ke sekolah. Baru naik motor ketika kuliah. Itupun motor bareng-bareng.
  • Pekerjaan rumah kami bagi-bagi. Kalau ada pembantu, sifatnya sementara aja. Dulu pas aku masih kuliah, atau pas aku harus ke luar negeri.
  • Gadget harus yang harganya masuk akal, sekedar bisa lancar untuk aplikasi dan keperluan akademik.

Tapi, mereka masih beranggapan kami memanjakan dan tidak memberi kebebasan. Itu yang mereka tangkap ketika menonton Captain Fantastic!

6 orang anak yang dibesarkan di alam, harus memasak dengan bumbu seadanya, setiap hari berlatih fisik! Kemanjaan itu (atau mungkin lebih tepatnya, belum memfasilitasi berbagai kebebasan) baru disadari usai nonton CF beberapa kali.

“Ayah harus bisa diajak berdiskusi tentang hal sensitif, termasuk hal agama dan seksual,” kata si sulung. “Ternyata anak kecil bisa diajak berpikir rumit dengan cara mereka sendiri.”

“Kalau selalu diarahkan; we don’t know what we need, what we want, what we can,” kata nomer 2. “Nonton CF membuatku jadi pingin banyak baca buku dan memahaminya.”

Forbidden words! Ben Cash mengajarkan anaknya untuk menjelaskan apa yang dipikirkan,” kata nomer 3.

“Aku manusia yang hedon banget. Tergantung pada gadget. Aku pingin bisa berpikir kritis dan open minded,” kata si bungsu.

Baiklah.

Kalau dibandingkan Ben Cash yang mendidik anaknya di alam liar; kuakui, anak-anakku masih belum tahu cara berburu, mengobati patah tulang, panjat tebing termasuk membaca buku-buku “merah”  seperti Lolita. Setelah menonton CF, setidaknya anak-anakku berpikir bahwa kehidupan yang sudah kuupayakan sederhana dan tidak terlalu addict pada gadget pun; ternyata masih terhitung hedonism kapitalis dalam ukuran Republic Plato-nya keluarga Ben Cash.

Apa-apa masih beli.

Apa-apa masih tergantung pada apa pendapat orang kebanyakan.

Ada pertempuran lumayan panas ketika kami diskusi, tapi juga ada pikiran-pikiran yang terbuka. Kami sepakat bahwa ke depannya, harus lebih sering berinteraksi dengan alam untuk dapat lebih merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Diskusi-diskusi perkara sensitif juga harus dibangun.

Along With The God (AWG) : Trial & Punishment

Bagi kaum muslimin, film AWG mungkin tidak terlalu mirip dengan alam barzakh yang masih sangat misterius dan penuh perkara ghaib. Tetapi, sama seperti film animasi Coco yang juga kami tonton bolak balik , hampir semua ajaran agama memberitakan satu hal pasti : ada kehidupan lain sesudah kematian. Kehidupan yang penuh dengan pertanggung jawaban.

Pengadilan pembunuhan, kemalasan, pengkhianatan, kebohongan, kekerasan, ketidakadilan, kedurhakaan. Begitulah 7 pengadilan yang harus dilalui Ja Hong, seorang pegawai pemadam kebakaran, ketika ia mati saat bertugas. Arwahnya termasuk arwah mulia yang sudah jarang ditemui oleh para penjaga alam baka selama puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, arwah mulia Ja Hong ternyata harus melalui 7 pengadilan untuk membuktikan : benarkah ia benar-benar mulia ataukan sebetulnya ia manusia yang licik?

 Ketika anak-anakku menontonnya mereka berkata

“Wah, apakah aku bisa selamat dari semua pengadilan itu?”

Meski berbeda dari konsep Islam, AWG memberikan visualisasi bagaimana manusia bisa jatuh dalam neraka tak berujung sesusai dengan kejahatan yang dilakukannya. Naudzubillahi mindzalik. Sama seperti ketika menonton CF, diskusi-diskusi yang mencuat di antara kami menjadi catatan yang menarik.

“Ada bekal, ada trial, ada punishment dalam kehidupan sesudah mati. Neraka tidak hanya panas membakar tapi juga dingin membeku. Berbakti pada orangtua adalah keharusan dan bisa menjadi bekal,” kata si sulung. “Semakin mulia kita, semakin mudah pengadilannya.”

“Aku berdosa sekali. Melihat pengadilan itu, aku sudah jatuh satu persatu,” kata nomer 2. “Masih ada orang baik di atas muka bumi ini.

“Ada kehidupan sesudah mati,” kata nomer 3. “Setiap perbuatan ditimbang kebenaran dan kesalahan.”

“Ada DO!” kata si bungsu, yang KPopers. DO menjadi salah satu pemain di AWG 1, ia adalah personil EXO. “Di dunia harus berbuat baik lebih banyak. Berbakti pada ortu, sayang kakak, sayang keluarga. Konsep bekerja keras ada dalam masyarakat Korea.”

AWG 1 mengisahkan hubungan ibu dan anak, sementara AWG 2 mengisahkan hubungan ayah dan anak. Si sulung berkata.

“Dari film itu kita juga tahu, bahwa hubungan ayah-anak itu jauh lebih rumit dan lebih kompleks.”

Aku merenung mendengar perkataannya.

Di AWG 1, lebih banyak dikupas hubungan Ja Hong dan Su Hong (sang adik)  dengan ibunya yang bisu. Kehidupan mereka sangat miskin sehingga kemiskinan ini menimbulkan berbagai macam permasalahan yang akan dikupas di  pengadilan alam baka.

Di AWG 2, banyak dikupas hubungan Gang Rim dan ayahnya, Raja Dinasti Goryeo. Sang Raja lebih mengasihi adik Gang Rim, Won Maek yang menjadi sebab mereka bertiga akhirnya saling membunuh.

Memang benar. Hubungan ibu-anak seringkali sangat simple dan bisa dicairkan hanya dengan saling meminta maaf. Tapi hubungan ayah anak? Sangat rumit, kompleks, berkelindan dan tumpang tindih. Seringkali ada kekecewaan di situ, ada pengharapan besar, ada figuritas, ada tekanan, ada keinginan untuk membandingkan, ada persaingan dan lain-lain. Wajar bila hubungan ayah anak bila rusak, lebih sulit untuk memperbaikinya.

*Catatan parenting awal tahun 2021

Leave a Comment