Mengenal Writing Therapy atau Terapi Menulis

 

 

Pernahkah dengar tentang writing therapy atau terapi menulis?

Dan menurut anda, bisakah menulis menjadi salah satu bentuk terapi?

Terapi menulis, adalah salah satu bagian besar dari art therapy atau terapi seni. Terapi seni mencakup semua terapi psikologis yang menggunakan pendekatan seni dalam proses terapeutiknya. Berhubung seni sendiri mencakup pemaknaan yang luas, maka terapi seni pun dapat bermacam-macam mulai terapi melukis, psikodrama, terapi menulis dan sebagainya.

Terapi menulis digaungkan antara lain oleh James Pennebaker.

Walau terapi ini tentu menuai pro dan kontra, tetapi beberapa pihak semakin terpanggil untuk menjadikan cara ini sebagai sebuah cara ampuh untuk mengatasi berbagai gangguan.  Umumnya, orang masih lebih mempercayai terapi kognitif dan terapi behavior yang terlihat lebih jitu dalam mengatasi gangguan kepribadian ataupun gangguan perilaku. Atau bila sudah terlalu dalam, pendekatan psikoanalitik dirasa lebih tepat. Terapi menulis lebih masuk ke arah pendekatan transpersonal yang disebut sebagai pendekatan atau madzhab keempat sesudah psikoanalis, perilaku dan kognitif. Bahkan, Pennebaker mengklaim klien-kliennya yang memiliki trauma masa lalu parah menjadi jauh lebih baik ketika menjalani writing therapy atau terapi menulis.

 

Siapa yang menjalani terapi menulis?

Gadis-gadis zaman dulu,  atau yang hidup di era 80-90; punya perilaku unik dalam kehidupan sosial. Waktu saya SD, SMP, SMA ; saat salahs atu ulang tahun maka teman-teman satu gengnya akan punya default barang sebagai hadiah. Kaset, boneka, kartu ucapan  yang bisa mengeluarkan irama musik,  atau buku harian. Buku harian lengkap dengan gembok dan kunci! Rata-rata gadis zaman saya punya buku harian dan itupun tak cuma satu. Di toko buku, buku harian jenis yang paling suka diburu para cewek. Rasanya, kalau bisa mengumpulkan uang dan memiliki buku harian yang diidam-idamkan : bahagiaaa sekali. Buku harian itu biasanya memiliki tebal 300-400 halaman. Berwarna-warni; dominasi pink tentu saja. Dengan quote kecil yang membuat hati makin baper seperti : love at the first sight is endless love. Always thinking about you. Your eyes is like a rainbow. Miss you like crazy dan begitu-begitulah. Pokoknya, diary menampung curhat para gadis dan insyaallah aman sebab tegembok dan tersimpan di lemari. Kecuali bila ada yang usil mengambil kunci gemboknya.

diary with key
Diary

Gadis zaman saya dulu nyaris tidak mengenal kata stress.

Jangan dibilang kalau di zaman itu tekanannya tidak seberat sekarang ya. Beuh! Sama beratnya! Di segala zaman, tantangan sendiri-sendiri.

Zaman saya sekolah, belum ada whatsapp dan line. Kalau tidak masuk sekolah karena sakit atau izin keperluan keluarga; harus cari pinjaman buku teman untuk fotokopi atau disalin tulisan tangan. Tidak semua rumah punya telepon, jadi tidak selalu persoalan diselesaikan melalui telepon. Internet? Boro-boro. Tugas sekolah yang memerlukan referensi diselesaikan dengan cara bermain ke perpustakaan atau pergi ke toko loak . Di Yogya, toko loak buku ada di shopping center. Wuah, ini surganya saya. Kalau naik becak kemari, bisa berjam-jam mendekam dan menyusuri gang-gangnya!

Tekanan di zaman saya besar.

Sama besarnya dengan tekanan hidup era sekarang, namun bentuknya lain.

Tetapi kami punya cara pelampiasan, tanpa kami sadari : menulis.

Jatuh cinta, patah hati, dimusuhi teman, di bully, dimarahi guru, disetrap guru, dimarahi orangtua, berantem dengan kakak, adik yang menyebalkan, nilai ulangan jelek semua tumplek blek di buku harian. Pendek kata rindu benci dendam cinta dibuang ke buku harian. Maka seorang cewek bisa marah besar kalau diarynya sampai ketahuan orang lain hehehe.

Sekarang,

Kebiasaan itu sudah hilang.

Tak ada waktu menulis buku harian.

Oh, bukan tak ada waktu tapi tak zaman lagi.

Semua tulisan diposting di facebook, instagram, line.

Dan, belum sempat penulisnya merenungi kisah hidupnya ; bertubi reaksi datang. Memuji, menghujat, menyela, memberi nasehat, mencemooh. Tak ada waktu menenangkan diri. Tak ada jeda meredam marah. Yang ada justru kemarahan yang semakin meruncing. Jangankan melampiaskan perasaan terpendam, justru postingan kita di medsos membuat persoalan baru yang membuat perasaan kembali tertekan.

reem workshop.jpeg

Writing therapy atau terapi menulis bukanlah sekedar menulis, lalu mempublikasikannya di media sosial sehingga orang banyak bebas menilai diri seseorang semau mereka. Terapi menulis justru bertujuan untuk menumpahkan segala , mengendapkan rasa dan ketika membaca dan membaca lagi tulisan tersebut; timbul pencerahan mendalam yang menyebabkan si pelaku menjadi lebih tenang dan mantap  ketika mengambil suatu tindak positif.

Tahukah anda bahwa Buya Hamka pun pernah putus asa?

Ulama favorit saya ini pernah terpikir mengakhiri hidup ketika di penjara.

Lalu, ia membaca ulang buku yang telah dituliskannya.

Membaca ulang tulisan sendiri, membuat Buya Hamka meraih kekuatan luarbiasa dan di penjara ia menghasilkan karya menakjubkan tentang al Quran.

Semua orang perlu menulis.

Menulis adalah salah satu bentuk terapi.

Bahkan, bila kita enggan bertemu terapis, semoga menulis menjadi salah satu cara penyembuhan.

Tunggu tulisan berikutnya tentang writing therapy atau terapi menulis ya.

Reem and PF.JPG

#Reem

#Polarisfukuoka

 

0 thoughts on “Mengenal Writing Therapy atau Terapi Menulis”

  1. Buya Hamka membaca kembali tulisannya menjadi kekuatan luar biasa. Saya? Buka buku harian dulu pas SMP-SMA, saya jadi ngerasa geli. Cowok kok gaya bahasanya kayak cewek. Hehe… Tapi doakan saya, mbak. Saya lagi proses pemulihan memberanikan diri lagi untuk nulis dan mempublikasikannya dalam karya.

    Reply
  2. Sangat menyentuh. Memang bener kak, dulu kita pasti punya diary yang pake gembok dan penuh curhatan. Tapi sekarang, udah jarang sangat. Saya juga perlahan mulai malas nulis diary, tapi akhir-akhir ini saya gencarkan lagi. At least, diary jadi tempat menyimpan ingatan-ingatan sederhana yang berkesan.

    Reply

Leave a Comment