Film Mother Gamer : Cara Keren Ibu Mendekati Anak yang Hobi Gaming

Ben Pajamas seperti ibu-ibu zaman sekarang. Seperti saya juga : takut banget ketika anaknya pegang HP! Pasti nge-game, pasti nggak ngerjakan tugas sekolah. Pasti game itu yang bikin anak agresif. Itu yang dituduhkan bu Ben, ketika bolak balik memergoki anaknya , Ohm, pegang HP. Apalagi ketika tahu Ohm akan ikut turnamen esport.

Jelas, bu Ben tak akan pernah mengizinkan anaknya ikut turnamen game. Ohm anak brilian, selalu juara. Mau jadi apa dia kalau menghabiskan waktu dengan main game?

Thailand mencuri perhatian saya dengan film-film edukasinya seperti Bad Genius, The Billionaire. Kali ini Mother Gamer.

Awalnya saya khawatir nonton film ini. Khawatir gak paham sama dunia gaming. Tapi ternyata sinematografi film ini keren banget! Saya yang nggak ngerti apa-apa tentang dunia game, jadi tahu sedikit-sedikit istilah Jungler, Mid Lane, Solo Lane, Archer dan sejenisnya. Jadi tau juga turnamen game AOV – Arena of Valor.

Sedikit synopsis

Karena bu Ben benci gaming, ia membuat gerakan anti ponsel ke sekolah. Di satu sisi Ohm sangat mencintai dunia gaming dan terjadilan konflik ibu-anak yang heboh banget. Si ibu berusaha menggunakan segala otoritasnya agar Ohm gagal, dan di sini kita diperlihatkan sebuah fenomena.

Bukan game kadang yang membuat anak agresif. Tapi orang tua yang otoriter, diktator, power abusive membuat anak berontak dan di permukaan,  agresifitas itu disimpulkan dengan sebuah analisa tunggal : gegara game kamu agresif!

Film ini drama komedi.

Karenanya kelucuan mulai muncul ketika bu Ben dengan segala cara mencoba menghambat laju keberhasilan Ohm. Demi menggalalkan Ohm main game, bu Ben menyewa 5 anak untuk menjadi tim gamer. Ohm yang memiliki akun tenar Sonic Fighter bergabung di tim Higher sementara bu Ben membentuk tim game sendiri bernama Ohmgaga beranggotakan Kobsat (Jungler) , Maprang (Support), Guide (Carry), Max(Solo Lane), Bank(Mid Lane). Jangan kaget melihat nama akun-akun mereka ya! Maprang si Darkblood, Guide si Paladin406, Bank si True Hero.

Tetiba Guide dibajak Higher dan tim Ohmgaga kekurangan 1 pemain. Mau tak mau, bu Ben harus ikut main game.

Di situlah bu Ben mulai belajar.

Sebagaimana Ohm, si pandai yang egois di tim Higher. (Bukankah Ohm belajar egois dari ibunya?) Ibu anak ini belajar bahwa di dunia game, menjadi terbaik bukan satu-satunya cara memang. Bekerja sama dalam tim, rela berkorban, menyusun renacan, berhitung hingga detik per detik sangat penting untuk bisa memenangkan turnamen.

Singkat cerita, Ohm justru menang turnamen.

Bu Ben belajar banyak dari keiktusertaannya ikut turnamen AOV.

Yang mengharukan adalah ending cerita, ketika Ohm diwawnancarai : apa kamu senang dinobatkan sebagai MVP ? (most valuable player).

Ohm bilang, semua teamnya adalah MVP, bukan dia seorang (ia udah belajar gak jadi egois!) Dan ketika diwawancarai di televisi : siapakah MVP mu?

Ohm menjawab : MVP ku adakah ibuku.

So sweeeet!

Ya Allah!

Benar-benar hubungan ibu anak yang penuh prahara, egois, manipulasi, saling nipu satu sama lain. Lalu di titik tertentu ketika mereka mencoba untuk memahami dunia gaming itu seperti apa, si ibu mulai mencoba mengerti tentang dunia anaknya. Dan ternyata, Ohm ingin menang turnamen game itu bukan karena ia addiksi. Ia ingin ke Korea, menang uang dalam jumlah banyak dan mengajak ibunya main ski. Ohm dan bu Ben memang bukan orang kaya sehingga mereka selalu memimpikan punya uang cukup untuk biaya kuliah Ohm.

Hayo, para ibu. Para ayah!

Nonton film ini.

Saya gak minta anda untuk ikut turnamen game.

Tapi  asyik banget lihat sinematografi film ini.

Gimana bu Ben pertama kali memainkan k arakter Carry di AOV, bawaannya kalah melulu dan selalu diselamatkan oleh karakter Kobsat sebagai Jungler.

Dan ending dari cerita ini adalah : komunikasi dan mencoba memahami dunia anak kita sangat penting. Hanya dengan melarang dan mematikan rasa ingin tahu mereka, akan  memunculkan sikap pembangkangan. Bangunlah komunikasi dengan anak melalui kacamata mereka, sebab, dari kacamata anak seperti Ohm sebetulnya mereka ingin membuat orangtua bangga!

Leave a Comment