Nona Jepun : Perjalanan Mencari Ide (1)

Mau nulis apa?

Nyari referensi di mana?

Apa kalimat pembuka?

Karakternya siapa aja?

Ketika merencanakan untuk ikut lomba DKJ 2021, aku berniat untuk membuat 2 novel. Pertama, bertema sejarah Indonesia. Kedua, bertema pandemic. Karena aku suka membaca buku dan menonton film bertema sejarah, kupikir akan menyenangkan bila menulis novel bertema sejarah. Lalu, situasi pandemic harus menjadi salah satu sumber inspirasi dan menjadi jejak sejarah bagi perjalanan ummat manusia. Ternyata, aku hanya mampu menyelesaikan 1 novel tepat waktu.

Kenapa Menuliskan Nona Jepun?

  1. Pertengkaran kecil di rumah kami menyisakan jejak di benak. Anak-anakku suka banget nonton anime, baca manga, menikmati musik Jepang. Mulai musik rock macam One OK Rock, Sound Horizon. Girl group macam AKB 48 dan Keyakizaka. Solois macam Kenshi Yonezu, Gen Hoshino dan Kokia.

Ibuku yang telah berusia 80 tahun lebih, suatu saat memergoki kesukaan anak-anak pada jejepangan.

“Kenapa kalian suka musik Jepang?” tegur ibuku sengit kepada anak-anak.

Aku melihat dua generasi yang terpisah jarak waktu, memandang sebuah sejarah negara dengan perasaan bertolak belakang. Ibuku, mengingat Jepang dengan pedih. Aku, hanya mengenal sejarah Jepang lewat buku-buku. Anak-anakku, mengagumi Jepang dengan segala keunggulannya. Remaja sekarang yang gandrung dengan segala hal yang berbau japanese arts akan akrab dengan manga dan anime masyhur macam Attack on Titan, Death Note. Mungkinkah anak sekarang dijauhkan dari kultur Jepang?

Lalu, bagaimana menyikapi dua generai yang berseteru dalam memandang sejarah?

2. Kisah Jugun Ianfu di Natgeo dan berbagai referensi sejarah, rasanya begitu mengiris-iris hati. Korea Selatan terus mengingatkan Jepang atas apa yang pernah diperbuat negara tsb di masa lalu. Generasi terkini tentu tidak terkena dosa leluhur. Namun generasi terkini dari kedua belah negara harus sama-sama belajar apa saja dampak perang.

Aku ingin menuliskan kisah penjajahan Belanda dan Jepang yang dialami bangsa Indonesia, di era 45 yang membuat bangsa ini dilibas kesengsaraan bertubi-tubi. Lepas dari Belanda, jatuh ke tangan Jepang. Bisakah dibayangkan seperti apa babak belurnya bangsa Indonesia?

Jugun Ianfu atau juga disebut sebagai comfort women bukan hanya menimpa Indonesia, tetapi merata di negara-negara yang pernah menjadi jajahan Jepang.

3. Tempat-tempat yang pernah kukunjungi, kutinggali, yang kuhirup udaranya dan kupijak tanahnya; pasti menyimpan jejak nadi kehidupan. Apalagi bila itu menjadi bagian dari Indonesia, ada denyut sejarah hidupku yang berdetak di sana. Suami orang Tegal, pasti ada sejarah yang berkaitan dengan Belanda dan Jepang. Suamiku sekarang bekerja di Banjarmasin, pasti ada jejak Belanda dan Jepang di sana.

Nona Jepun mengambil setting Balamoa, wilayah kabupaten Tegal yang dulu terkenal dengan pabrik gula di zaman Belanda. Banjarmasin, menjadi salah satu titik penting Jepang sebelum menyerbu Jawa. Jepang pertama kali mendarat di Tarakan (Kaltim) lalu bergerak menancapkan kuku di Kalsel, tepatnya Banjarmasin.

Bagaimana Menuliskannya?

Punya ide bagus. Oke, great! Excellent!

Tapi gimana mengeksekusinya? Apa yang harus mulai dituliskan? Sesuai alur waktukah? Dari masa Belanda lalu masa penjajahan Jepang? Membayangkan betapa banyaknya sumber yang harus dibaca sudah membuat pusing. Di mana tempat aku menulis (kamar, ruang tamu) bisa dipastikan berantakan. Buku-buku, kliping, majalah dll bertebaran.

Kusiapkan sketchbook, buku putih tanpa garis. Kucoret-coret rencana cerita. Alur cerita sudah tergambar di kepala. Tapi seringkali, yang ada di kepala berbeda dengan tulisan yang digoreskan tangan. Beda lagi ketika nanti dibaca berulang. Pikiran-pikiran buruk berkelebat.

Gimana kalau sumber referensinya salah, atau kurang?

Gimana kalau ceritanya nggak menarik?

Gimana kalau malah kayak buku sejarah?

Gimana kalau gak selesai tepat waktu?

Bahkan belum nulis, semangat udah maju mundur!

Kulantunkan doa-doa berulang-ulang agar diberikan kesabaran, kekuatan, ketelitian, kemampuan menyelesaikan cerita. Ini bukan bicara tentang kemampuan menulis semata. Ini menyangkut masalah motivasi dan juga ilham. Allah Swt menjadi sumber energi bila di titik-titik tertentu semangat merosot ke angka minus. Apalagi kalau ide cerita lagi buntu. Blank. Black hole!

            Baiklah.

Daripada overthinking, negative thinking.

Daripada berpikir buruk,”ah, nanti kalau gak menang gimana?”

Kenapa gak mulai nulsi aja? Udah, nulis beberapa kalimat yang bisa. Seperti biasa, segera kumulai halaman-halaman di word laptop. Berlagak sudah dapat cerita beberapa halaman. Padahal isinya……(titik-titik). Titik-titik yang banyak. Yang benar-benar diketik adalah dialog. 2 tokoh perempuan bernama Ndaru dan Mirah memang sudah kuputuskan akan menjadi tokoh utama dalam ceritaku. 2 gadis belia dari kasta berbeda yang bersahabat.

Dialog.

Dialog.

Dialog.

Salah nggak papa. Gaya bicara mereka kayak gadis-gadis millennial, gakpapa (harusnya dialog tahun 40-an bukan bergaya lo-gue) . Yang penting cerita mulai mengalir. Setidaknya, benakku yang beku mulai dihangatkan dengan perjalanan berkisah. Nanti percakapan Ndaru dan Mirah bisa diedit, disesuaikan dengan era masa itu. Begitu melihat perjalanan Nona Jepun udah 5 halaman (walaupun isinya berantakan dan kebanyakan titik atau huruf gak jelas) mulailah terpicau semangat untuk mulai menuliskan halaman demi halaman.

Dan…tulisanpun mulai berjalan.

Tidak secepat yang kuharapkan.

Tidak sebagus yang kuimpikan.

Haduh, bagaimana ini?

Katanya mau buat novel sejarah yang cantik, yang mengalir, yang memukau? Kok hasilnya gak beres begini?

(bersambung)

2 thoughts on “Nona Jepun : Perjalanan Mencari Ide (1)”

Leave a Comment