Ramadhan dalam Irama Covid 19 : Sebuah Renungan Pribadi

3  ayat berikut dari surat al Baqarah, rasa-rasanya demikian akrab menjelang kehadiran bulan mulia yang dinantikan sekaligus dicemaskan oleh kaum muslimin di tahun 2020 atau bertepatan dengan 1441 H . 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa  ( 2 : 183)

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui ( 2 : 184)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur ( 2 : 185)

☹Hari-hari ini, serasa kita tidak berada di ayat 183 atau 185.

Siapa yang hari-hari ini merasa sehat dan kaya? Sepertinya kita merasa sakit oleh gelombang Covid 19 dan merasa miskin karena hantaman ekonomi. Cuaca demikian panas, orang bersin dan batuk di mana-mana. Ya, selama ini  kita terbiasa melihat orang batuk bersin. Sekarang, serasa setiap orang adalah OTG  dan superspread. Melihat orang memakai masker curiga, melihat orang tanpa masker apalagi.

💰💷💶Kaya?

Siapa sekarang orang yang merasa kaya?

PHK, tutupnya toko dan perusahaan, jarangnya orang belanja untuk kebutuhan sekunder tersier; membuat ekonomi lesu dan setiap orang memperketat uang belanja. Ekonomi dunia merosot tajam, pertumbuhan nyaris minus. Ekonomi rumahtangga apalagi.

Tetapi, rasa sakit & miskin ini semoga tidak menghambat kita untuk  menjadi orang beriman dan bertaqwa. Tetap puasa, meski tanpa kolak dan nata de coco. Tetap bergairah puasa, meski tenggorokan rasa tercekat akibat cuaca panas dan virus seperti mengendap-endap menyisir jalan pernafasan.

Panggilan bagi orang beriman ini bertujuan untuk meningkatkan taqwa.

Arti taqwa dalam hadits Arbain ke-18 adalah :

….

عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : «اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْـحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

…..dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Betakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah sesama manusia dengan akhlak mulia.” HR. At-Tirmidzi

Iringi keburukan dengan kebaikan.

Nabi insani yang begitu manusiawi, memahami psikologis manusia. Seorang konselor, terapis, manusia paling humanis, manusia paling altruist. Motivator yang bukan hanya membangkitkan semangat, tapi tahu cara bertahap. Beliau paham bahwa taqwa adalah ketakutan kepada Allah Swt tetapi bukan berarti menegasikan kesalahan dan kekurangan manusia. Manusia akan selalu salah, lupa, khilaf bahkan khianat. Tapi sifat manusiawi yang kadang lekat dengan ciri syaithani itu harus diiringi dengan sifat mulia para malaikat.

Suka hoax? Ayolah, kenapa tak sesekali menyebar berita positif.  Suka mendebat? Come on, sesekali meredam ego. Konsumtif? Sesekali cobalah gabung di sedekah Jumat. Korupsi, manipulasi, monopoli? Hei, kenapa tidak sekali saja di Ramadan ini berbagi dengan seluruh lapisan rakyat memerangi Covid 19?

Rasulullah Saw tahu; manusia yang sudah bertahun-tahun lekat dengan sifat hedonis dan permisif tidak akan mampu berubah agamis kecuali sedikit-sedikit. Kecuali setahap-setahap. Dan Allah Swt Yang Maha Pemurah menerima kebaikan meski sebelumnya mungkin pelakunya berbuat maksiat.

Ah, pernahkah kau dengar sebuah cerita haru ini?

♥ ♥ ♥ “Aku seorang penjaja seksual. Lebih dari seorang PSK, aku adalah seorang gigolo. Tapi perlu kalian ketahui, semua penjaja seks tahu bahwa pekerjaan ini  haram dilakukan dan jauh di lubuk hati kami didera rasa bersalah. Setiap malam aku bermimpi, mimpi yang membuatku bangun basah berkeringat. Mimpi yang mencekikku. Dalam mimpi itu aku diperlihatkan siksa kubur. Siksa kubur ! Belum siksa Jahannam.

Lalu aku bertanya pada orang-orang : apakah aku masih boleh sholat?

Seorang Ustadz berkata : “Ya, kamu harus tetap sholat.”

Aku bertanya, “Meski aku masih jual diri?”

“Meski masih jual diri!”

Kata Ustadz tersebut, kalau aku sudahi sholat dan baca Quran, maka aku semakin jauh dari Tuhan.

Sejak saat itu aku menggelar sajadah dan sholat Isya , malam hari sebelum menjaja diri. Teman-temanku mentertawakan aku, “ Gila lo! Mau jual diri, masih sholat? Emang diterima??!”

Aku tak peduli. Sholat urusanku dengan Tuhanku. Dan entah mengapa, meski pikiran dan tubuhku tarik menarik antara baik-buruk, baik-buruk; aku sampai pada sebuah kesimpulan : taubat harus segera dilakukan.”♥ ♥♥

Wahai pembaca, tahukah anda? Si gigolo itu lalu bertaubat, dan tak lama sesudahnya ia meninggal, insyaallah husnul khatimah. Ia pergi dengan membawa taubat dan penyesalam dalam.

Iringilah keburukan dengan kebaikan, sekecil apapun. Baiklah, kita tidak bisa berinfaq 100% seperti Abubakar ra. Belum bisa sedekah 50% harta seperti Umar ra. Bahkan, belum bisa memberikan infaq terbaik seperti Utsman ra. Yang kita keluarkan masih sedikit. 100 ribu sedekah seperti banyak sekali, 100 ribu kuota seperti sedikit sekali. Enggan sedekah uang; kita masih bisa sedekah dengan cara lain. Memberikan ucapan selamat kepada orang yang tak kita kenal di media social atas keberhasilannya atau kelahiran anak pertamanya. Walau bahkan tak pernah datang ke pernikahannya , atau tak pernah bertatap muka sama sekali!

Dan pada akhirnya, seperti ayat 185 .

Kita diminta untuk bersyukur.

💗🤲Bersyukur bahwa kita tidak mengalami cerebral palsy seperti salah seorang sahabat, sehingga ia tic tremor perlu bersusah payah membuka HP dan mengetiknya.

💗🤲Bersyukur bahwa kita tidak low vision seperti salah seorang sahabatku, sehingga perlu mendekatkan HP sejarak 1 cm ke depan mata. 💗🤲Bersyukur masih tidak kehilangan pendengaran, sehingga dapat menikmati spotify baik yang gratis atau premium.

💗🤲Bersyukur tinggal di Indonesia, dimana adzan terdengar di mana-mana. Suatu saat jika ke Jepang atau Korea, hatimu akan tersayat perih merindukan kumandang adzan mengingatkanmu untuk berbuka.

💗🤲Bersyukur meski bosan WFH, bukan kita yang berada di garda depan mengenakan baju APD yang luarbiasa panasnya.  Bersyukur meski bosan dengan makanan yang itu-itu juga; kita bukan driver ojol yang menanti antrian makanan dan mengantarkan ke depan rumah orang yang menyambut dengan senyuman masam.

💗🤲Bersyukur dalam segala kesempitan era Covid 19; bukan tubuh kita yang terbujur kaku, dibalut plastik erat, dimakamkan dalam kesunyian pelayat. Bersyukur bahwa, sekali lagi di Ramadan tahun ini, Tuhan masih mengizinkan kita melakukan kebaikan (sedikit) yang mengiringi keburukan di 11 bulan nyaris tanpa henti!

💗🤲Bersyukur bahwa, di curahan Ramadan ini, kita bisa memanjatkan doa apa saja dan tanpa sadar, doa-doa itu telah dikabulkanNya secara diam-diam.

Akhir Sya’ban 1441 H

1 thought on “Ramadhan dalam Irama Covid 19 : Sebuah Renungan Pribadi”

  1. masyaAllah, bunda terima kasih pengingatnyaaa. :”)
    marhaban yaa Ramadan, selamat menyambut Ramadan bunda, semoga bunda sekeluarga senantiasa dijaga oleh Allah.

    Reply

Leave a Comment