Review Nona Jepun oleh @lilo_mujadilah : Perempuan, Konflik Psikologis, dan Masyarakat Marginal
2 mins read

Review Nona Jepun oleh @lilo_mujadilah : Perempuan, Konflik Psikologis, dan Masyarakat Marginal

“Dia tak istimewa!”
Bentakan yang diucapkan seorang tokoh lelaki mengenai Ndaru, tokoh utama novel Nona Jepun, membuat saya terenyak. Tidak biasanya tokoh dalam sebuah karya fiksi adalah orang yang biasa-biasa saja, tanpa kontribusi signifikan terhadap alur yang menjadi latar cerita. Ndaru bukanlah tokoh pahlawan yang memberontak terhadap penjajah, atau bahkan memiliki kekuatan besar untuk mengubah nasib diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.


Ndaru hanyalah seorang anak petani tebu di tengah lingkungan sesama petani tebu yang semuanya hidup miskin. Bangkrutnya pabrik gula milik Belanda membuat kemiskinan semakin melilit. Ndaru pun memutuskan memulai hidup baru bersama Mirah, kawannya yang anak seorang nyai Belanda. Kedatangan tentara Jepang yang membuat Belanda terusir memang memberi harapan bagi sebagian besar pribumi, termasuk Ndaru. Namun, keluar dari lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya: Ndaru justru terjerumus menjadi ianfu, sasaran pelampiasan nafsu tentara-tentara Jepang yang datang ke tanah nusantara.

 

Profesi Sinta Yudisia, penulis novel ini, sebagai seorang psikolog sangat tampak dalam menggambarkan perjalanan psikologis Ndaru dan tokoh-tokoh lainnya. Isu-isu kekinian seperti mental health, sandwich generation, love-hate relationship antara orang tua dan anak diolah melalui interaksi empat generasi tokohnya. Ini menunjukkan bahwa problematika tersebut sebenarnya lintas zaman, sudah ada bahkan sejak zaman kolonial, dan Bunda Sinta, demikian saya memanggil beliau, secara tersirat memberikan langkah-langkah yang harus dilakukan pada mereka yang mengalaminya.


Fakta bahwa keempat tokoh lintas generasi tersebut semuanya adalah perempuan (ibu Ndaru, Ndaru, serta putri dan cucu Ndaru) memberikan pesan kuat tentang bagaimana perempuan menghadapi dan mewariskan beban sosial, psikologis, dan spiritual di tengah masyarakat yang menuntut mereka untuk bertahan. Salah satu jalan keluar yang dipilih oleh Ndaru adalah dengan menulis berbagai surat. Secara tidak langsung, ia sebenarnya sudah berkontribusi dalam proses perekaman sejarah yang tidak tercatat oleh narasi-narasi resmi tentang penderitaan rakyat pribumi selama masa penjajahan. Ini menunjukkan bahwa dengan langkah sekecil ini, seorang perempuan yang tidak “istimewa” pun sebenarnya bisa dan sudah berkontribusi besar terhadap sejarah suatu bangsa.

 

Saya pernah bertanya kepada Bunda Sinta,

“Mengapa karya sastra Islami sering kali memberikan nasihatnya secara eksplisit? Tidak bisakah pesan-pesan itu disampaikan secara samar, sehingga dapat memperluas pembacanya dari kalangan yang belum tersentuh nilai Islam?”

Rupanya, buku ini adalah jawabannya. Pesan-pesan religius tidak melulu harus disampaikan dalam bentuk preaching, tetapi bisa dimasukkan melalui karakterisasi dan pilihan-pilihan hidup para tokoh. Dalam Nona Jepun, nilai-nilai Islam tentang kesabaran, keteguhan iman, dan keikhlasan hadir melalui tindakan dan pemikiran karakter, membentuk narasi yang menyentuh dan menggugah segmen pembaca yang lebih luas tanpa terasa menggurui. Sisanya, serahkan pada pembaca untuk menarik hikmahnya.

 

N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *