Rohis Bukan Teroris

 

Bom di Surabaya yang meledak kemarin, Ahad 13 Mei 2018, pasti akan memunculkan berbagai dinamika. Diskusi, polemik, asumsi, lempar melempar opini, bahkan pendapat negatif berhamburan. Apapun itu, saya tetap ingin menuliskan apa yang ada di benak dan hati, dan mencoba menuangkannya secara santun bermartabat.

 

Doktrin teroris jelas tidak ditanamkan sehari dua hari. Butuh waktu pekanan, bulanan, bahkan bertahun-tahun untuk membentuk seseorang menjadi ekstrimis. Berapa tahun Belanda menjajah Indonesia hingga muncul doktrin “merdeka ataoe mati” ? Setelah penjajahan, penistaan, penjarahan, penganiayaan, pembunuhan terus menerus terhadap anak-anak bangsa; bangsa Indonesia pada akhirnya bergerak untuk berjuang hingga tetes darah penghabisan. Berapa lama pula para pahlawan seperti Cut Nyak Din, Diponegoro, Imam Bonjol, Hasanuddin dkk hingga organisasi macam Sarekat Dagang Islam, Budi Utomo dll untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajah?

 

Berbulan.

Bertahun.

Belasan dan puluhan tahun.

 

 

ustaz-abdul-somad
Ustadz Abdul Somad

Doktrin radikal, fundamentalis, teroris tidak bisa ditanam dalam jangka waktu sebentar. Tetapi juga jangan sembarangan mengatakan bahwa doktrin ini muncul “hanya” karena penanaman nilai-nilai Islam semata. Karena rutin ngaji, jadi radikal. Karena ikut rohis, jadi ekstrimis. Karena rajin ke masjid, ikut kajian Abdul Somad dan Habib Riziq, jadi teroris.

Bukan hanya karena satu masalah Indonesia pernah menggaungkan semangat lawan kolonialisme Belanda dengan slogan beragam : Sekali Merdeka, Tetap Merdeka. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Mati satu, tumbuh seribu.

Bukan hanya karena satu alasan. Tidak.

 

Belanda datang ke Indonesia, mengadu domba dan memecah belah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa politik devide et impera Belanda bertujuan memecah belah Indonesia. Terpecahnya kesultanan Ngayogyakarta dan kasunanan Surakarta dalam perjanjian Giyanti, akibat VOC juga. Belanda selalu mencampuri urusan Amangkurat I, dan memecah belahnya dengan pangeran Adipati Anom dalam kerajaan Mataram. Belanda tidak henti-henti mencampuri , memecah belah setiap kekuasaan yang bercokol di nusantara.

 

Belanda juga memaksa bangsa Indonesia melakukan hal tak menusiawi. Ketika Herman Willen Daendels diutus ke Indonesia untuk mempertahankan tanah Jawa dari Inggris, ia melakukan banyak cara tak manusiawi. Memaksa kerja rodi untuk membangun pabrik senjata di Semarang dan Surabaya, membangun jalan Anyer Panarukan. Memaksa rakyat menjual hasil bumi dengan harga murah kepada Belanda (verplichte leverantie); memaksa Preanger Stelsel, yaitu rakyat dipaksa bertanam kopi, menjual tanah Negara kepada swasta asing seperti Han Ti Ko pengusaha China. Rakyat Indonesia menjadi kasta terbawah di negeri sendiri.

 

Belanda menarik pajak yang berat, utamanya pada warga Tionghoa yang merupakan warga mayoritas saat itu dan mereka banyak berdagang.  Belanda sering menyiksa rakyat dan melakukan penyiksaan, seperti yang terjadi di penjara Kalisosok, Surabaya.

Banyak sekali alasan untuk menjadikan orang ekstrimis, fundamentalis, teroris. Bukan hanya karena satu alasan saja.

Sebagaimana peristiwa pengeboman di Surabaya, apakah doktrin agama satu-satunya alasan menjadikan orang teroris? Apakah rohis adalah lembaga cikal bakal teroris? Nanti dulu. Saya tidak sepakat rohis dianggap sebagai satu-satunya lembaga penghasil teroris karena sebagaimana Belanda dulu menyiksa bangsa Indonesia, ada sekian banyak hal yang ‘menyiksa’ bangsa ini hingga menjadi sakit. Sakit fisik, sakit psikis, sakit ekonomi. Dan sakit yang tiada ujung itu bisa menyebabkan –misalnya-  seorang penghuni penjara Kalisosok seperti Li Hong Li, kuli kontrak, berani bangkit dan berontak.

 

Apakah rohis membentuk ekstrimis juga, sebagaimana Belanda pada akhirnya secara tidak langsung membentuk ekstrimis pejuang kemerdekaan?

Hm, nanti dulu.

naruto sasuke.jpg
Naruto Sasuke Rohis

Rohis BUKAN Teroris

 

  1. Rohis BUKAN teroris, sebab saya dulu mengenyam rohis sejak SMA dan kuliah. Rohis membuat saya memakai kerudung, sholat wajib dan sunnah lebih giat, faham bahwa keridhoaan Allah sejalan keridhoan orangtua. Sejak ikut rohis saya merasa harus lebih baik kepada ayah dan ibu. Lho, bukannya itu didapat di pelajaran agama? Alamak, pelajaran agama yang di sekolah hanya 2 jam lebih sering membahas hukum waris, memandikan jenazah. Sesuatu yang jauuuuh dari pikiran anak muda! Rohis membahas hal kekinian yang menyentuh jiwa muda saya saat itu.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Rohis adalah organisasi, dimana saya minta anak-anak untuk bergabung. Ya. Orangtua mana di zaman ini yang bisa merasa yakin, sekilo sejak anak keluar dari rumah, ia masih anak baik-baik saja? HP, internet, mall, teman-teman dapat menjadi ancaman. Kalau ia ke mall, jangan-jangan…Kalau ia belajar bersama ke rumah teman, jangan-jangan…Kalau ia buka internet, jangan-jangan… Menyuruh mereka aktif di rohis membuat saya selaku ibu merasa ‘aman’ : ada yang mengingatkan anakku untuk takut kepada Tuhan. Religiusitas menjadi salah satu cara mengatasi juvenile delinquency, sebab anak-anak merasa punya kendali diri

 

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Di jalan rohis saya lebih tahu bahwa Quran itu untuk dibaca, bukan buat mahar saja. Di jalan rohis saya tahu, bahwa semakin paham Islam, semakin optimis dan positif kita memandang hidup (gak peduli gagal SBMPTN, gagal masuk kerja, gagal usaha, gagal punya pacar, gagal berjodoh dengan seseorang. Judulnya move on sepanjang masa, karena itu tadi, sandarannya Allah. Tuhan semata. Jadi segala sesuatu dianggap ada hikmahnya). Waduh, kalau saya gak masuk rohis, mungkin saya cepat patah arang. Sumbu pendek. Pikiran cupet. Gak lulus kuliah, hopeless. Gak dapat-dapat jodoh, dengki. Gak dapat kerja layak, umpat sana sini.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Bertahun setelah saya ikut rohis di SMA dan kuliah; tiap kali saya ngisi acara kepenulisan, psikologi, parenting atau apalah namanya selalu saya sisipkan ke tengah audiens : ikutlah kajian Islami alias rohis dimanapun anda berada.

 

Lha, yang saya hadapi wanita karir. Cantik, pinter, berduit. Gak ikut rohis? Gimana kalau dia kena virus perselingkuhan? Yang saya hadapi mahasiswa jauh dari ortu, dengan energi vitalitas tinggi dan libido meledak; gimana kalau dia kenapa-kenapa sama lawan jenisnya? Perlu anda ingat, orang yang belum pernah sama sekali ikut kajian Islam alias rohis dalam hidupnya, juga berpotensi serupa teroris. Contoh, menangani urusan SDM kantor : 1 karyawan atau 1 kepala seksi terindikasi perselingkuhan; hadehhh. Ruwet. Rumit! Bukan hanya membengkak jadi kasus suami istri, pengabaian anak-anak. Kantor pun amburadul, anak buah terbengkalai, target kantor gak tercapai. Apa ini bukan masalah besar?

 

Baru 1 orang. Gimana kalau satu instansi, satu departemen ada virus korupsi, virus selingkuh, virus malas kerja dll? Ingat. Rohis dan kajian Islam yang mengggerakkan orang-orang di kampus, kantor, sekolah untuk bisa bertindak profesional alias itqon. Kerja adalah ibadah! Kelak mereka harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas hasil kerja keras mereka.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Di hadapan anda sekarang tersaji anak-anak muda yang keren luarbiasa. Dakwah di instagram, dakwah youtubers, dakwah bloggers, pengusaha makanan dan pengusaha outfit yang outstanding! Anak-anak muda yang rela nikah muda dengan segala konsekuensinya, daripada pacaran. Mereka jaga nama baik orangtua dan keluarga, lho! Anak-anak muda yang memacu diri mencari beasiswa dan giat organisasi, sebab tujuan belajar bukan hanya keahlian individualistis. Tapi keahlian teamwork. Anak-anak muda yang segera galang dana jika ada bencana alam dan bencana kemanusiaan. Anak-anak muda kreatif, inovatif; tapi seperti kata Habibi : otaknya Jerman, hatinya Ka’bah. Ini bukan cuma didikan ortu dan sekolah. Rohis juga ikut ambil bagian di dalamnya.

 

rohis
Rohis keren

Jadi kalau rohis dibilang penghasil teroris, wah gimana ya?

Saya tidak setuju.

Kalau rohis kantong teroris, hitung aja sendiri berapa teroris yang ada dari Aceh sampai Papua. Dan, dengan jumlah teroris sebanyak itu, Indonesia jadi apa, coba?

Sinta Yudisia

Penulis & Psikolog

 

 

 

 

 

0 thoughts on “Rohis Bukan Teroris”

  1. Saya nggak pernah ikut rohis. Tapi saya dari Madrasah Aliyah. Pelajaran agama lumayan lebih lama jamnya. Dan memang benar, semakin banyak yang dipelajari saya semakin sadar kalau islam mengajarkan kedamaian. Keren deh!!

    Reply

Leave a Comment