Suamiku Bisa Berubah!

 

“Pussss?” sapa suamiku.

Aku baru tahu kalau suamiku benar-benar berubah tadi pagi. Sepulang kami dari masjid usai sholat Subuh, aku jalan di belakangnya. Ia berada di depanku, jarak tiga langkah, lalu tampak makhluk hitam kumal berbulu tengah terkantuk dekat tong sampah.

 

Benci kucing setengah mati

Semua anakku suka banget sama kucing. Kucing putih, hitam, kembang telon, abu-abu yang ada di sekitar rumah dan mampir rumah disapa. Dikasih sisa makanan. Dipanggil-panggil. Mau kucing cantik punya tetangga, kucing garong, kucing budukan, kucing maling.

Aku nggak tahu apa penyebab suamiku benci setengah mati sampai ke inti DNA nya sama makhluk berbulu ini.

“Najis!”

“Awas aja kalau sampai nyolong ikan di meja.”

“Bikin plafon bolong kalo lagi musim kawin!”

“Bawa tokso!”

Kalau aku berdalih anak-anak selalu senang hewan peliharaan, suami menolak.

“Semua hewan yang dipelihara anak-anak mati. Ikan, kelinci, burung hantu. Anak-anak belum bisa mandiri melihara hewan.”

Putri bungsuku pernah suatu ketika kudapati pucat ketakutan.

“Aku habis megang kucing, Mi, harus segera cuci tangan…” bisiknya. Memang, kalau ketahuan abahnya, tanpa ampun, anak-anak bisa bungkam diam kena tegur keras dan galak. Aku sendiri nggak tahu, kenapa suamiku benci kucing. Phobia? Enggak juga. Mungkin aja, suamiku takut kucing itu akan mengganggu ikan-ikan kesayangannya. Alasanku juga gak diterima.

“Kalau melihara kucing, bisa ngusir tikur lho, Mas,” aku membujuk.

“Ah, tikus dibunuh pakai racun aja. Lagian tikus sekarang gede-gede, kucing aja malah takut, kok,” tolaknya.

Aku benar-benar mati kutu. Lantaran anak-anakku, 3 suka kucing. 1 aja yang gak suka kucing. Cuma denganku anak-anak bisa berbagi kesenangan mereka terkait kucing.

“Ih, lucunya, Mi…kucing itu. Kucing silang ya?” anakku nunjuk kucing tetangga yang berbulu lebat.

“Mi, lihat nih! Lucunyaaa!” anak-anak hampir setiap hari nge-share video lucu kucing entah dari youtube, line, instagram.

“Kenapa sih Abah nggak bolehin kita melihara kucing,” keluh anak-anakku.

Padahal, bagiku, memelihara hewan banyak sekali manfaatnya. Aku sendiri ikut-ikutan sedih melihat anakku hampir tiap hari dimarahi ayah mereka jika ketahuan bercengkrama dengan kucing-kucing yang entah dari mana datangnya.

Kitkat.jpg

Kenapa berubah?

Memelihara hewan, khususnya kucing, menurutku banyak manfaatnya.

  1. Anak-anakku jadi lebih bagus afeksinya terhadap sesama saudara, dan nggak menghabiskan waktu dengan gadget mereka
  2. Anak-anakku belajar tanggung jawab mulai beli makanan, ngurus pasir, ngurus kotoran
  3. Anak-anakku jadi lebih tertib dan disiplin
  4. Anak-anakku jadi lebih happy, relaks dengan hewan peliharaan

Tapi gimanaaaa? Ayahnya sama sekali benci kucing, hiks.

Denganku anak-anak kadang memendam marah dan tangis.

“Abah kenapa sih, kebangeten banget! Masak melihara kucing 1 aja nggak boleh.”

Sebagai ibu yang baik (jiaaah) aku nggak mungkin bilang, “emang ayah kalian galak! Gak bisa kompromi!”

Kukatakan begini, “eh, Abah itu senang hewan lho! Sejak kecil Abah melihara ikan, merawat burung yang jatuh dari pohon. Tapi Abah kalian itu tanggung jawab. Nggak pernah kakek nenek ikut repot ngurus. Coba kalian sendiri yang merayu Abah pelan-pelan.”

Anak-anak dan aku mencoba mengubah persepsi kepala suku kami.

Caranya?

  1. Anak-anak dan aku nge-share video lucu tentang kucing.
  2. Cari informasi tentang toksoplasma
  3. Cari informasi tentang najis kucing
  4. Cari informasi tentang kisah ulama atau sahabat terkait kucing.

 

Suamiku awalnya kukuh. Tapi lambat laun, terbuka kesempatan dengan syarat. Anakku benar-benar mau tanggung jawab. Ketika kesempatan itu datang, anak-anakku mencoba sebaik-baiknya. Beli pasir, beli wadah untuk pup-pipis, beli makanan kucing. Tak lupa, anak-anak juga berlatih untuk nggak gampang jijik ketika si kucing muntah. Anak-anak juga, meski repot dengan urusan sekolah dan kuliah, bekerja keras untuk menjaga rumah dari najis.

Kulihat, si kakak memberi komando.

“Kamu pulang jam berapa? Bisa beli makan?”

“Kamu bisa beli tissue basah sama tissue kering? Buat ngelap kalau makanan kucing jatuh berceceran.”

Dan ternyata…si kucing itu lucu luarbiasa. Mengeong, naik kursi, mengejar-ngejar siapapun yang tengah berjalan. Termasuk mengganggu suamiku…hahah. Suamiku yang tadinya sebel sekali, akhirnya perlahan suka. Bahkan mulai cerewet kalau anak-anak lalai.

Hingga sekarang, suamiku malah sering celingak celinguk kalau sedang naik kendaraan. Ketika kucing melintas lari .

“Ih, lucu ya, Mi. Kucing kampung yang lewat.”

Suamiku juga suka bercanda dengan anak-anak terkait kucing.

Hingga Subuh pagi tadi, ia menyapa kucing bulukan budukan kampungan yang tengah termenung di tepi sampah, “Pussss.”

Alhamdulillah…ternyata, bukan hal mustahil mengubah suami.

Butuh waktu, kesabaran, doa, kelapangan hati, usaha dan juga keberanian untuk bersitegang hehehe Kalau hal itu baik untuk diperjuangkan, kenapa nggak dilakukan? Aku merasa yakin, bahwa persepsi suamiku perlu diubah lebih kooperatif. Kucing memang kadang meninggalkan jejak najis, bawa toksoplasma, suka mencuri. Tapi semua bisa diatasi dengan kerjasama antar keluarga. Apalagi, bila dibandingkan manfaatnya, luarbiasa. Bukan hanya pengusir tikus dan pembawa keceriaan, tetapi jadi pengasah afeksi anak-anak dan penyebab makin sedikit interaksi dengan gadget!

 

0 thoughts on “Suamiku Bisa Berubah!”

  1. Aku juga tadinya tidak suka kucing, tapi ya tau2 ada kucing jatuh dari atap rumah dan nggemesin.. skrang malah keterusan melihara. kucing asik dipelihara sih, karena mandiri dan gak harus diajak jalan2..

    Reply
  2. ya ampun mbak, ini mirip aku dulu. Aku dulu ga terlalu ngeh dengan kelucuan makhluk bernama kucing. memang sih ga sampai benci setengah mati. cuma nggak peduli aja. ada kucing lewat, ya lewat aja. nggak pernah kepikir mau pelihara kucing sampai suatu hari suami nolongin seekor kucing kecil. awalnya saya nggak mau dia melihara kucing karena saya malas ngurusnya, dia janji dia yang bakal ngurus. eh, ternyata kucing itu makhluk yang lucuuu banget. saya jadi ikut-ikutan ngurus dan sekarang jadi cat lover. ternyata memelihara kucing memang banyak manfaatnya seperti yang mbak sinta sebutkan di atas. 🙂

    Reply

Leave a Comment