Surabaya : Tetep Cangkrukan, Cak!

 

10 tahun yang lalu, kami memutuskan tinggal di Surabaya. Setelah melanglang tinggal di beberapa kota mulai ujung utara Sumatera hingga ujung timur pulau Jawa, kami menjadikan Surabaya sebagai base camp. Banyak alasan yang menjadikan kami memilih kota ini.

 

  1. Masyarakat Surabaya yang didominasi orang Jawa Timur, terkenal blak-blakan. Bicara apa adanya. Saya yang sebetulnya orang Yogyakarta asli, awalnya kaget.
  2. Jalan di Surabaya relatif lebar, dengan penghijauan di tengah jalan. Kalaupun macet di ruas MERR atau Ahmad Yani, ada taman-taman hijau yang memanjakan mata yang lelah. Hampir tiap sudut kota, lahan kosong disulap menjadi taman artistik. Terimakasih, bu Risma.
  3. Kemacetan di Surabaya belum terlalu parah dan semoga tidak parah!
  4. Budaya cangkrukan (nongkrong) yang membuat warga lebih dekat satu sama lain
  5. Budaya mancing, bahkan saat hujan deras, yang disukai masyarakat

 

 

Balai Kota Surabaya malam hari
Balai Kota Surabaya di malam hari

 

Telingaku yang awalnya terbiasa mendengar kata-kata sopan dan lemah lembut khas Yogyakarta, sungguh terganggu ketika awalnya mendengar kata yang seperti makian.

“Janc**k! Ndiasmu ning endi!” (Janc*k, kepalamu di mana?)

“Cuk, gak pathek-en aku  di PHK. Sing penting enthuk duwit halal.” (Gak rugi diPHK. Yang penting dapat uang halal)

Kon ki gak lapo-lapo, gak gelem kerjo, mangan njaluk dibayari. Mbok pikir aku bank mlaku, ngono ta? Nek urip kudu urup!” (Kamu tuh nggak ngapa-ngapain, gak mau kerja, makan minta dibayari. Kamu pikir aku bank berjalan, begitu? Hidup harus menyala/bangkit!)

“Sapurane, Cak! Ngono yo ngono ning ojo ngono!” (Maaf, Mas. Gitu ya gitu, tapi jangan begitu)

 

Konon, janc**k sebetulnya bukan misuh. Ada yang mengatakan itu adalah sapaan akrab yang mengalami pergeseran makna  (ingat, kata bangs*t yang sebetulnya kutu-kutu kecil , menjadi makian palign kasar di Indonesia). Janc*k konon nama kendaraan Belanda yang bernama Jan Cox. Para tentara Indonesia mengingatkan rakyat untuk berhati-hati terhadap kendaraan yang satu ini.

“Awas, awas! Ono Jan Cox! Ojo nganti ketemu karo tank kuwi!”

Jan Cox.jpg
Jan Cox menjadi Janc*k

 

 

Itulah Surabaya.

Janc*k, cangkrukan, ngomong kasar, bicara apa adanya; lama-lama terasa memiliki makna tersendiri. Orang Surabaya berbeda dengan orang Yogyakarta. Orang Surabaya sekilas kasar, ‘panas’, gampang misuhan. Tapi, jarang sekali orang Surabaya yang punya dendam di hati. Saya punya banyak teman, yang kalau mereka tersinggung atau tak suka, langsung ngomong di depan.

“Ojo ngono lah, Mbak. Gak ilok.”

“Rego sak mono njaluk luwih. Yo sapurane.”

Nyaris, tidak kutemukan orang yang di depan mata bilang ya, gak papa, silakan tapi di belakang punggung bilang berbeda. Maka aku merasakan kehidupan antara satu orang dengan orang lain, antara satu rumah dengan rumah lain, antara satu kampung dengan kampung lain, antara satu RT dengan RT lain, satu RW dengan RW lain terasa tak memiliki api dalam sekam.

Sebab semua telah selesai di permukaan.

 

Blak-blakan.

Senggol bacok istilahnya.

Ojo nyenggol nek ora gelem dibacok, demikian kira-kira. Jangan ganggu kalau gak mau balas disakiti.

Maka saya heran, ketika peristiwa bom terjadi : benarkah ini dilakukan warga Surabaya? Benarkah ini dilakukan orang-orang yang dalam keseharian kita, memiliki keberanian untuk bicara terbuka dan apa adanya? Rasanya tidak.

 

Siapapun mereka yang melakukan, saya yakin bukan bagian dari Surabaya, apalagi bagian dari Indonesia. Sebab kami warga Surabaya terbiasa berbicara terus terang, jujur dan apa adanya. Cangkrukan ngopi-ngopi menunjukkan di hati masyarakat luas, kebersamaan itu sangat penting. Bahkan dilakukan oleh para bapak-bapak yang sangat lelah sepulang kerja. Kami terbiasa cangkrukan di warung kopi, di pos satpam, saat rehat di kantor, bahkan di masjid usai sholat berjamaah.

Janc*k, adalah sapaan akrab satu pemuda dengan pemuda lain, satu bapak dengan bapak lain, satu warga dengan warga lain. Bahwa di antara kami , jalinan teman dan persahabatan lebih kuat dari pada ikatan pribadi yang mengedepankan egoisme.

 

Jadi?

Apakah ledakan  bom ini akan melunturkan tali kekerabatan warga Surabaya?

Ojo nganti ngono, Cak!

Yo,  cangkrukan bareng maneh! Ngopi-ngopi. Iki kuthone awake dhewe.

Surabaya punya kita.

Ayo, jaga dengan persaudaraan dan jiwa ksatria .

Orang Surabaya dikenal berjiwa patriotik. Tidak lemah oleh hasutan dan ancaman. Jan Cox saja menyingkir. Apalagi mereka yang berjiwa kerdil. Tetap kuat dan bersatu, warga Surabaya!

Angkot, warkop, bakso. Harmoni di Surabaya

Foto-foto dokumen pribadi dan

https://deskgram.org/explore/tags/indonesianhistory

0 thoughts on “Surabaya : Tetep Cangkrukan, Cak!”

  1. Aku rindu surabaya yg aman tentram dan damai. Meskipun panas dan macet menyebabkan keringat bercucuran serta kalimat pedas misuh misuh, tapi budaya yg humble, kekerabatan, dan ceplas ceplos adalah hal yg tak bisa dilepas. Teroris itu ga punya agama dan ga pantas ada di bumi. Salam

    Reply

Leave a Comment