Writing for Healing : Menulis itu Menyembuhkan, atau Malah Membuka Trauma?

Kasus 1

Seorang perempuan, sebut namanya Ina, senantiasa berlinang dan berdebar setiap kali mengetikkan sebuah nama. Ya, nama lelaki itu Yuda (samaran). Dialah lelaki yang paling mengerti dirinya. Tetapi jalan  hidup tak dapat ditebak, Yuda dan Ina tidaklah berjodoh. Meski Yuda dan Ina berpisah kota, masing-masing telah memiliki kesibukan, kenangan akan Yuda tidaklah menguap begitu saja. Ina memiliki karir bagus dan keluarga yang bahagia, begitupun Yuda. Walau demikian, tiap kali mengingat, menyebut, menulis nama Yuda; rasa sakit itu masih terasa. Tetapi Ina tentu saja tak bisa menghapus Yuda dari dunia ini. Mereka masih bertemu dalam rapat, kerja, aktivitas sehari-hari.

 

Kasus 2

Sebut namanya Angie.

Gadis cantik dan pintar yang membuat banyak orang iri. Angie Memiliki banyak penggemar, terutama pemuda, yang mengungkapkan cinta dengan cara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Banyak orang iri pada Angie, utamanya kaum hawa. Betapa tidak? Angie yang supel, murah senyum, humoris, pintar, pintar cari uang sejak kuliah, aktivis pula, berteman banyak; pendek kata tak ada nilai negatif dalam dirinya! Bahkan Angie bukan tipologi cewek sombong yang merasa sok cantik. Itulah sebabnya teman cewek dan cowoknya bejibun.

Tetapi tak banyak yang tahu masa lalu Angie. Keluarganya yang berantakan, hingga tiap kali ia menceritakan kisah masa lalunya pada segelintir orang yang bisa dipercaya, tangannya tremor. Asam lambung naik. Mata berkunang-kunang. Orang-orang bisa bercerita tentang ayah ibunya dengan santai.

“Liburan kemana?’

“Lebaran mudik nggak?”

“Kamu ditelpon siapa? Wisuda nanti siapa aja yang datang?”

Pertanyaan lumrah seperti itu biasa bagi sebagian orang. Tapi Angie pasti berkeringat dingin ketika terpaksa harus menjawab. Keluarga yang berantakan, ayah dan ibu yang terpisah, keluarga besar yang turut campur tangan dan ketidak utuhan persaudaraan merupakan masa lalu yang sangat membekas bagi Angie. Ia bahkan sempat tak ingin menikah, sebab mengingat perpisahan ayah bundanya yang sangat menyakitkan, sampai-sampai keluarga besar turut campur hingga ketika ia dewasa.

Angie mencoba mengatasinya dengan menulis. Di beberapa bagian tiap kali tiba di edisi perpisahan orangtua, atau edisi ketika ia harus mandiri sebagai individu sejak SMP, SMA dan kuliah; dadanya tiba-tiba terhimpit . Bahkan, pernah suatu ketika, Angie tengah berada di jalan raya dan ingatan akan perpisahan orangtuanya merangsek pikiran tiba-tiba. Ia gemetar dan kehilangan keseimbangan. Angie mengaku, saat itu tengah menuliskan pengalaman pribadi dan trauma perpisahan orangtuanya terlalu sulit untuk diungkapkan.

Peserta Writing for Healing mencoba mengungkapkan kisah

Menulis : Mencoba Merunut Sebuah Kisah

Banyak orang tidak dapat mengenal ujung pangkal kehidupannya sendiri.

“Aku nggak tahu harus cerita dari mana.”

“Aku marah! Sedih! Tapi aku nggak tahu sama siapa!”

“Mmmm…aku cerita begini ya,” lalu ia bercerita panjang dan terbata. “Eh, bukan, ceritanya sebetulnya begini.”

Ruwet. Bingung. Kusut. Tak terlihat celah penyelesaian. Bahkan, tidak tahu darimana semua bermula. Demikianlah manusia ketika sedang menghadapi masalah. Ia merasa bahwa semua orang menjadi pokok masalah. Atau juga ada yang merasa, dirinyalah yang tidak mampu dan tak sanggup menghadapi masalah sehingga setiap kejadian selalu berujung lebih buruk dari titik awal.

Menulis kisah, awalnya akan berantakan.

Susunan kalimat yang seharusnya Subyek- Predikat- Obyek plus keterangan; bisa tertukar-tukar tak karuan. Selain SPK yang tidak karuan, urutan kisah kejadian bisa jadi tumpang tindih. Kisah yang seharusnya merupakan cerita masa lalu- masa sekarang- harapan masa depan; berubah menjadi harapan masa lalu (yang tentu tak bisa diubah) , kesalahan menafsirkan masa sekarang dan memastikan bahwa masa depan sudah terjadi saat ini.

“Pasti hidupku berantakan. Dulu aku gagal, coba kalau orang-orang di sekelilingku gak begini. Besok bakal begini lagi. Gak ada yang ngerti aku dan suatu saat pasti keluargaku juga gagal lagi seperti orangtuaku gulu.”

Kalimat-kalimat yang muncul bukanlah rentetan suatu kisah.

Lebih banyak ungkapan emosional yang belum tentu obyektif.

Menulis dapat membantu seseorang merunut kisah hidupnya agar tertata dan dapat dibaca lebih baik. Biasanya, seseorang ketika bolak balik membaca tulisannya akan termenung.

“Kok, aku banyak menyalahkan ibuku ya? Memangnya saat itu ibuku ngapain, sampai-sampai ia bisa berbuat salah?’

WFH 2
Berbaim kata dalam Writing for Healing

Merunut kisah adalah merupakan alur penting dalam pemahaman kita terhadap apa yang telah terjadi dan bagaimana segala sesuatu akan dirancang. Saat seseorang dapat merunut kisahnya dengan baik, ia mungkin akan terluka tetapi dapat mengenali sesuatu lebih utuh.

Kisah siswa yang  menuliskan kekecewaan kepada orangtuanya ini mungkin dapat menjadi gambaran bahwa menuliskan kisah, dapat membuat seseorang melihat masalah lebih utuh. Tulisan siswa tersebut kurang lebih demikian.

“Aku benci boarding school. Aku benci sekolah asrama. Lagipula kenapa Cuma aku yang sekolah asrama? Karena aku bandel? Biar aku bisa dibuang gitu? Gak ngerepoti orangtua? Aku benci sekolah asrama, soalnya anaknya bandel-bandel. Guru-gurunya gak asik. Apa-apa nggak boleh. Awal sekolah asrama aku nangis. Aku benci! Aku ingat sekolahku yang dulu. Ingat teman-teman lamaku. Aku pingin pulang. Pingin balik ke rumah. Apalagi kalau aku ngadu tentang temanku yang memang nakal, malah aku yang dinasehati. Suruh sabarlah. Suruh ngerti. Lah, dianya yang salah?”

Setelah melewati proses menulis beberapa kali, siswa tersebut rupanya mendapatkan sedikit demi sedikit insight tentang kondisi yang sedang dihadapinya. Dan proses ini memang tidak sebentar ya.

“Ya, aku memang keluarga besar. Adikku banyak. Mungkin, aku memang perlu sekolah asrama supaya ada yang bisa ngawasi aku. Kalau di rumah, mamaku sibuk antar jemput adik. Aku mungkin gak keurus. Walau mama nggak bisa ngontak aku tiap hari, lama-lama asik juga sekolah di asrama. Mama masih sayang aku kok. Buktinya, papa dan mama memilih sekolah asrama yang mahal harganya, padahal adik-adikku cuma sekolah yang murah. Kata mama biar aku bisa jadi orang berguna.”

Menulis, dapat membantu seseorang merunut ksiah yang sesungguhnya. Bahwa kejadian yang tengah berlangsung bukanlah sebuah malapetaka, tapi sebuah pilihan terbaik dari sekian banyak pilihan yang ada; yang tak bisa dihindarkan selaku manusia. Seorang anak masih bergantung pada orangtua dan memiliki kewajiban menurut meski juga tetap harus bersuara; seorang anak menjadi bagian dari sebuah keluarga. Bila keluarga tersebut memiliki masalah maka anak tersebut juga harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari penambah masalah. Alhamdulillah, menulis membantu orang untuk dapat merunut kisah dengan lebih baik. Meski belum tentu mereka menyetujuinya.

Anak yang menuliskan kisah tersebut pada akhirnya memiliki trauma tertentu pada boarding school namun ia tidak menolak ketika masuk ke sekolah yang sejenis dengan catatan, boarding schoolnya tidak terlalu jauh dari domisili orangtua sehingga ketika terjadi kondisi bullying; ia bisa segera mencari pertolongan.

 

Menulis membuka Trauma Lama

Ya.

Menulis memang membuka luka.

Luka yang sudah tertutup, dikorek lagi, berdarah, dan menimbulkan luka baru yang tak kalah perih. Memang demikianlah bila kita berniat membongkar luka lama. Lalu mengapa harus dibongkar padahal sudah selesai? Case closed?  Kalau  masalah sudah selesai, tidak perlu diutak-atik lagi.

Memang selayaknya, permasalahan lama yang sudah tertutup tak perlu dibongkar lagi.

Namun, seringkali, permasalahan yang sudah ditutup, dipendam, disimpan; ternyata tidak selesai begitu saja. Kebencian pada orangtua yang dulu tak mampu mendidik dengan baik, kebencian pada saudara yang berbuat aniaya, kebencian pada teman yang pernah mengaganggu; seiring waktu akan berlalu. Kita hidup terpisah dari orangtua ketika kuliah dan bekerja, begitupun saudara dan teman pun akan berjauhan seiring waktu yang memisahkan. Masalahnya, suatu saat, seorang anak yang membenci orangtuanya; bisa jadi kelak ia menjadi orangtua. Seorang manusia yang memiliki hubungan kurang baik dengan saudara atau teman, ternyata harus bertemu lagi dengan saudara dan temannya dalam suatu perkara.

Atau, kalaupun tidak lagi bertemu dengan orangtua atau pihak-pihak yang pernah memiliki masalah; kita akan berada dalam posisi yang mirip dengan kejadian dahulu.

Dulu menjadi anak.

Sekarang menjadi orangtua.

Kebencian yang mengendap kepada orangtua dalam berganti menjadi amarah pada situasi, atau pada anak, atau pada pasangan; atau pada apa saja yang mirip dengan situasi di masa lampau. Maka hal inilah yang seharunya diselesaikan.

Menuliskan nama atau kejadian atau tempat, mungkin awalnya akan mengorek luka.

Nama mantan.

Nama orangtua, entah nama ayah atau ibu.

Nama guru, atau nama dosen.

Nama teman, atau sahabat.

Nama kota.

Nama kejadian.

Tahukah anda, bahwa ada seseorang yang enggan dipanggil “sesuatu” karena trauma?

Saya selalu memanggil teman dan sahabat perempuan dengan sebutan : manis atau cantik. Hai, mbak Cantik! Hai adik Manis!

 

“Jangan panggil aku dengan sebutan cantik, Mbak! Aku benci. Awas kalau Mbak sampai panggil aku cantik lagi. Aku benci panggilan itu. Awas ya, Mbak, jangan lagi-lagi bilang aku cantik atau sejenisnya!!”

Tentu saja, aku terperangah, Dan terseinggung pada awalnya. Sebab, temanku telah berlaku demikian over, menurutku. Apa salahnya memanggil cantik? Apa salahnya memanggil manis? Dan ketika kemudian dia menuliskah kisahnya secara rahasia, aku tahu, bahwa panggilan cantik baginya adalah sebuah luka menganga. Panggilan cantik, adalah ketika di masa kecil, saat ia  harus tinggal dengan seorang kerabat yang jauh lebih tua; telah menyebabkannya mengalami sexual abuse. Lelaki tua itu merayunya dengan sebutan : anak cantik.

Ya Tuhan. Na’udzubillahi mindzalik.

Sungguh.

Ada di antara kita yang memiliki luka-luka menganga dan luka itu disebebakn oleh suatu kejadian, seseorang atau mungkin sebuah situasi keterpaksaan. Memang tidak mudah melaluinya, tetapi memungkirinya juga hanya akan menjauhkan dari kesembuhan.

Menulis, memang akan membongkar luka lama. Tetapi luka ini ingin kita sembuhkan bersama. Setidaknya, ingin disembuhkan oleh korban yang mengalaminya dan merasa tersiksa. Tuliskan perlahan-lahan nama orang yang pernah melukai dengan teramat dalam.

Awalnya gemetar. Tak mampu. Bahkan timbul kebencian pada semua yang terkait dengan nama itu. Tak mengapa, bila kita sudah merasa siap bertarung dengan diri sendiri. Kebencian, kesedihan, rasa malu, putus asa dan beribu rasa negatif lainnya akan menyeruak bersama-sama. Akan muncul airmata. Amarah. Bila tidak kuat melakukannya sendiri, mintalah seorang sahabat untuk mendampingi sepanajng menuliskan nama atau peristiwa tertentu yang menyakitkan. Bila melakukannya sendiri dianggap baik-baik saja, silahkan.

Beberapa tips untuk menuliskan suatu yang bermakna kebencian atau penderitaan :

  1. Tulislah di atas sebuah buku putih. Boleh bergambar. Nuansa putih akan menciptakan rasa bersih dan tenang.
  2. Usahakan kertas cukup tebal. Kertas tipis akan mudah sobek bila mengalami tekanan.
  3. Gunakan bolpoin. Pensil akan lekas patah bila diiringi kemarahan
  4. Bila tak bisa menyebut sebuah nama, katakan dia
  5. Bila tak mampu menuliskan peristiwa atau sesuatu yang menyakitkan, buatlah simbol. Entah E, X atau Æ
  6. Pelihara kesadaran diri sebaik-baiknya. Cermati bila tangan berkeringat, dahi berkeringat, dada berdegup kencang, jemari gemetar.
  7. Biasanya, menuliskan nama atau peristiwa, terasa sangat berat. Lebih baik bercerita seputar kisah yang menimbulkan trauma.

WFH All

Ayo, menulis untuk bahagia 🙂

 

 

 

0 thoughts on “Writing for Healing : Menulis itu Menyembuhkan, atau Malah Membuka Trauma?”

Leave a Comment