Barakallah Nak, atas kegagalan-kegagalan yang kau rangkul

Barakallah Nak, atas kegagalan-kegagalan yang kau rangkul
Merayakan kegagalan & keberhasilan dg Alhamdulillah

Ketika Nis memutuskan untuk menekuni dunia literasi, kusarankan ia untuk mengambil jurusan sastra atau apapun yang terkait bahasa pasca SMA. Kami pun bingung apakah ia akan ambil bahasa Arab, Inggris, Korea yang sedang nge-hybe banget di tahun itu, sastra Jepang, Rusia, dll. Gak ada di  benakku gambaran sastra Jepang sama sekali.

 

Satu saranku : istikharah.

Ia istikharah berkali-kali. Mencari jawaban dengan berbagai macam cara dan alhamdulillah. Jawabannya mengejutkan : ia dapat clue dari hasil istikharahnya untuk kuliah sastra Jepang. Aku pikir, “Ya sudahlah. Ini hidup dia, dia yang harus cari sendiri jawabannya.”

Nis & studi Jepang
Putriku & studi Jepang

Awalnya, hari-hari dilaluinya dengan ceria. Maklum, anak wibu. Anak otaku. Penyuka anime. Pecinta jejepangan. Bahasa Jepang sangat menarik ketika dijadikan hobi. Lambat laun, ia mulai merasakan tekanan. Kosa kata, grammar, dan tentu saja huruf kanji. Ia juga harus mengambil tes kelancaran bahasa yang diawali dengan JLPT 5 dan yang paling tinggi JLPT 1. JLPT (Japanese Language Proficiency Test) level 5 alhamdulillah berhasil. Sembari kuliah, ia harus terus melewati berbagai test.

 

Dan Nis mulai menangis.

“Teman-temanku bisa ambil JLPT 3. Kakelku bahkan ada yg JLPT 2 bahkan 1!”

Level 1 nyaris setara native speaker.

 

Selain kuliah, para mahasiswa juga harus aktif di berbagai kegiatan termasuk lomba-lomba. Jangan ditanya, berapa kali Nis ikut lomba. Kegiatan dan lomba macam Rodoku (membaca), Kanji Cup, Yosakoi (tarian tradisional), sampai Chanoyu. Termasuk menjadi panitia Bunkasai dan ketua Kiji. 

Chanoyu Univ. Dr. Soetomo & Nisrina

Setiap kali ikut lomba, hasil akhirnya membuatnya menangis.

“Aku gagal.”

 

Ia bahkan merasa bahwa sastra Jepang bukan untuknya.

“Jangan-jangan aku salah masuk sastra Jepang.”

 

Ketika ia gagal di JLPT 3, lengkap sudah kesedihannya.

“Aku gak semahir teman-temanku berbahasa Jepang.”

 

Nasihatku, dorongaku, motivasiku mungkin hanya sedikit menghibur. Ia terlalu sedih untuk terus menapaki kegagalan demi kegagalan.

Sampai suatu ketika ia cerita.

 

“Mi, lewat di beranda IG-ku nasihat bagus banget. Dari orang yang sering istikharah kayak aku.”

“Emang apa isinya?”

“Jangan pernah ragu dan merasa kecewa atas pilihan istikharah. Mungkin, sastra Jepang memang jalan hidupku ya?”

 

Aku tahu gak mudah memelajari bahasa yang beda banget dengan bahasa ibu sendiri. Yang bisa kunasihatkan adalah, “Kamu sepertinya perlu belajar lebih lama dari teman-temanmu. Seperti lagunya Stray Kids : gak semua orang punya pace yang sama.”

 

“Iya, mungkin aku butuh waktu lebih lama belajar dari teman-temanku.”

 

Mindset ikut lomba untuk menang sudah gak ada di pikirannya. Ia terus ikut berbagai kegiatan, lomba, aktif sebagai panitia atau ketupat; dan setiap kali ikut lomba kata-katanya adalah : “Gakpapa kalah ya?”.  Bukan lagi, “Doakan aku menang.”

 

Kegagalan sudah menjadi jalan ninja Nis. Ia gap year. Gagal di banyak kesempatan dan harus mengulang JLPT 3 sebanyak dua kali. Ketika dibuka beasiswa EJJC, ia gak berharap banyak. Ia mempersiapkan diri sama baiknya seperti saat Rodoku. Ia banyak berdoa sebagaimana kompetisi terdahulu. Apalagi saingannya banyak mahasiswa berprestasi dari universitas ternama berbagai daerah di Jawa Timur.

 

Aku ingat, hari itu aku mengantarnya mengikuti seleksi di Konjen Jepang, jalan Sumatera, Surabaya. Ia cerita, betapa ciut nyalinya bertemu rombongan mahasiswa dari kampus-kampus ternama. Tapi kegagalan sudah menjadi lembar-lembar hidupnya dan ia sudah siap apapun jawaban seleksi meski tentu saja, tetap berharap.

 

Nis membuat essay.

Dan ia harus menjelaskan apa isinya serta mengikuti interview. Semuanya in Japanese. Aku ingat, saat ia menulis essay, ia menyusunnya dalam bahasa Indonesia dulu dan menuliskan ulang dalam bahasa Jepang. Ketika aku membaca essaynya yang dalam bahasa Indonesia, aku berkata.

 

“Kenapa Nis menulis begitu banyak sisi negatif dari diri?”

“Eh..iyakah?”

“Iya. Bisakah kamu menulis sisi positif dirimu? Misalnya : aku banyak gagal dalam berbagai kesempatan menjadi aku butuh waktu lebih banyak waktu untuk memelajari sesuatu?”

 

Ia mengubah tulisannya, juga mindsetnya.

Wawancara di Konjen Jepang menurutnya berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Bahkan katanya, para interviewer kesulitan mengeja namanya tapi demi penghormatan, mereka tetap berusaha melafalkan nama para peserta secara lengkap. Di sinilah semua titik-titik kegagalan Nis menemukan jawabannya. Ia gagal di Rodoku. Ia bukan ahli Chanoyu. Ia gagal di Yosakoi. Ia kesulitan di klub Kiji.

Interviewer Jepang mengamati wajah Nis dan tetiba berkata, “Saya sepertinya sering ketemu kamu. Sering lihat kamu.”

Ya.

Interviewer itu mungkin melihat essay Nis sama dengan presentasinya.

Nis ada di banyak event, meski gak menang lomba. Nis butuh waktu lebih banyak belajar dan ia mau mengikuti proses itu. Ketika Nis menulis di essay bahwa ia mencoba berkali-kali dan proses itu berlalu dalam waktu yang panjang, sang interviewer mengakui bahwa apa yang diupayakan Nis sama dengan pengakuannya.

Aku terharu ketika ia berdiri di podium Kanji Club, ajang yang berkali-kali membuatnya kecewa karena ia gagal. Podium itulah yang menjadi saksi Nis bahwa setiap orang punya pace berbeda dalam mencapai sebuah target. Ketika target sudah ditetapkan, azzam harus dikuatkan, upaya dikokohkan dan selanjutnya adalah doa serta tawakal. Sebuah target yang berawal dari hasil istikharah, tidak selayaknya diragukan meski jalan ke sana terjalnya luarbiasa. Nis berhasil mendapatkan beasiswa EJJC, beasiswa yang akan digunakan untuk menuntaskan penelitiannya terkait anime Tokyo Magnitude 8.0.

 

Proverb yang disukai Nis adalah ini 

Jatuh 7x, bangkit 8x. 七転び八起き (Nana Korobi Ya Oki)

 

*****

 

Kalau ada anakku yang suka ikut olimpiade dan nilai matematika serta sainsnya selalu menakjubkan, itulah Ahmad. Dengan IQ tinggi, siapa orang tua yang tak berharap ia akan melaju dengan kecerdasannya meraih sekian banyak prestasi?

SD, SMP, SMA dilalui dengan memuaskan. 

Banyak orang mengakui kecerdasan Ahmad.

Ia bisa melemparkan jokes dan kita baru memahaminya selama sekian detik kemudian. Ada permasalahan elektronik? Tanyakan dia. Ada masalah spasial di rumah? Biarkan Ahmad yang menyelesaikannya. Mau belanja? Ajak Ahmad. Ia akan membaca dengan cepat mana shampo yang harus kubeli karena otaknya mengkalkulasi : ini lebih murah, karena harga per milinya sekian! Ketika aku mencari kalkulator untuk menghitung sesuatu, ia jauh lebih cepat menjawabnya.

Jokes, diskusi, makna filosofis jadi beda kalau dengan Ahmad.

Ketika aku menjelaskan makna stress kepada Nis, Ahmad menukas dengan bahasa sains.

“Nis, kalau kamu stress tubuhmu itu jadi solid bukan liquid! Paham?”

 

Nis jadi lebih baham makna stres ketika  Ahmad yang menjelaskan.

Kalau Ahmad nge-share meme lucu, aku lama ngehnya. Bahasannya ilmiah, matematis, saintifik. Mana lucunya? Baru dia jelaskan dan aku ketawa.

Ternyata hidup tak hanya membutuhkan kecerdasan semata.

Ada banyak hal yang mempengaruhi jalan hidup seseorang. Kesehatan, kemampuan komunikasi, keberuntungan, hubungan baik dengan banyak orang…banyak sekali aspek yang menyebabkan kesuksesan. 

 

Ketika ia harus cuti karena alasan tak terduga, hambatan itu mulai menjadi gelombang dan guncangan. Tak lagi bersama teman satu angkatan, hubungan kurang akrab dengan adik kelas, satu kelompok kerja dengan kakel yang berbeda kultur, dosen super disiplin yang keras dan tegas; semuanya tak selalu dapat diselesaikan dengan mengandalkan skor inteligensi. Satu demi satu kegagalan menghampiri. Puncaknya adalah ketika ia berada di puncak gairah menggarap tugas akhir terkait tangan prostetik, tetiba penelitian itu harus diubah.

 

Bagiku, mengubah judul skripsi dan subyek penelitian adalah hal yang sering didengar. Meski hal itu sangat mengerikan, tapi banyak mahasiswa menelan pahit getir dan tetap sukses hingga tujuan. Kali ini, tidak demikian. Aku paham, kenapa anakku begitu terpukul. Aku sendiri yang menemaninya mencari alat cetak 3D printing. Aku menemaninya membeli bahan ini itu –bahkan aku lupa apa namanya– pokoknya, tangan buatan itu bisa tecetak dengan bagus dan ia bercita-cita akan menjadikan prototype itu sebagai tangan buatan bagi orang cacat. Ahmad terkagum2 dengan semangat para penyandang disabilitas, kondisi yang berkaitan dengan rencana penelitian tangan prostetik. 

Dunia tak selalu dipenuhi hamparan bunga mawar, kan?

 

Singkat cerita ia harus mengubah semua rancangan penelitiannya. Tidak itu saja, ada mata kuliah yang sangat sulit ia selesaikan karena alasan komunikasi. Di satu titik, ia bahkan sudah menyerah dengan hidupnya. Sakit perutnya bertambah parah hingga dokter spesialias gastro memberikan masukan setelah obat2 mahal diresepkan : “Sepertinya perutmu bermasalah seperti ini bukan cuma masalah aslam. Kamu harus ke psikiater.”

Aku menyaksikan ketegarannya dan kesabarannya di tengah keletihan.

Di sela2 mengerjakan semua tugas dengan ancaman DO yang makin nyata, anakku menjalani terapi dengan mandiri. Ia membuat janji, ke dokter sendiri, mencari mana apotik paling murah (sebab obat2 anti depresan luarbiasa mahalnya!), tertib minum obat dan seterusnya. Psikiater sempat terheran2.

 

“Anaknya masih bisa bangun salat Subuh, Bu?”

“Iya, Dok.”

“Oh, alhamdulillah. Soalnya obatnya punya efek ngantuk luarbiasa. Pasien saya suka bablas tidurnya.”

Setiap kali ke kampus, kusaksikan sendiri anxiety-nya kambuh hingga keringat sebesar bulir jagung membasahi tubuhnya sampai basah kuyup. Ia meminum obatnya, berusaha terjaga di tengah kuliah dan segera kembali ke rumah untuk istirahat, lalu mengerjakan tugas-tugas yang lain. 

Ketika akhirnya putraku, Ahmad berdiri di sana mengenakan toga, sambutan rektor benar-benar menghunjam.

“Ada yang lulus tepat waktu.

Ada yang lulus tepat pada waktunya.”

 

Ahmad adalah yang tipe mahasiswa kedua : tepat pada waktunya, di semester akhir menjelang DO. Ia, yang sering juara kelas di masa sekolah dan memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata belajar hal paling penting dalam hidupnya : kepintaran bukan satu-satunya modal keberhasilan. Pengalaman, belajar berkomunikasi meski super introvert, terus melangkah meski menginjak kerikil dan tentunya terus menguatkan ikatan dengan Allah adalah pilar keberhasilan yang harus ditegakkan.

Ada masa ketika obat-obat depresinya ditambahkan dosisnya ketika ia sangat tegang tertekan menjelang puncak tugas akhir. Ada masa ketika obat-obat itu sama sekali tak berpengaruh pada dirinya. Maka yang bisa kukatakan hanyalah ini.

“Mas, konseling sudah. Obat juga sudah. Mengerjakan tugas juga sudah. Konsultasi ke dosen2 juga sudah. Tinggal kamu dzikir yang kuat ke Allah, ya.”

Ia sering membawa cincin tasbih digital. Membaca kalimat thoyibah hingga ribuan kali. Pada akhirnya, ketika nama putraku disebut sebagai salah satu mahasiswa penerima ijazah, aku menggenggam tangan suamiku. Kami menyeka airmata.

“Masyaallah, gak nyangka kita semua sampai di sini, ya?”

Anakku tak menggunakan selempang merah lulus dengan cum laude atau summa cum laude. Tapi bagi kami orang tua dan saudara-saudaranya, ia mengenakan selempang selendang yang lain : ketabahan menghadapi kesulitan, tahan malu meski dikecam, terus melangkah meski harus sendirian.

Wisuda 134 Biomedik ITS

Barakallah, Nak.

Jalan hidup memang tak selalu manis dan nyaman.

Tuhan hanya ingin menunjukkan, saat kamu sendiri hanya berteman kegagalan, ada Dia yang bisa dipeluk untuk membasuh kepahitan. 

 

Buat Anak-anakku dan Adik-adikku di luar sana yang harus gap year, harus berhenti sekolah atau kuliah, harus gagal berulang karena kemiskinan broken home dan lain-lain; bangkitlah lagi, ya.  Jatuh 7x, bangkit 8x. 七転び八起き (Nana Korobi Ya Oki). Kalau kalian jatuh 5x, maka harus bangun 6x. Kalau jatuh 20x, maka harus bangun 21x. 

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *