Jika seorang ibu telah meninggalkan impiannya, cita-citanya, ketika menikah; apakah berarti ia sudah tak bisa lagi menggapai impiannya?
Ada kisah menarik tentang seorang pemuda bernama Aditya. Kami bertemu saat acara Ruang Pelita, di acara bagaimana mengatasi Panic Attack. Aditya masih duduk di bangku kuliah salah satu universitas bergengsi di Surabaya. Audiens yang hadir saat itu memperkenalkan diri, asal dan saat itu sedang studi di mana. Masing-masing bercerita singkat tentang diri mereka dan aktivitasnya, termasuk pada akhirnya giliran jatuh ke Aditya.

Bagi sebagian orang, mungkin kehidupan Aditya terasa biasa saja. Dari kota kecil di Jawa Timur, orangtua tak mampu, kuliah dengan beasiswa. Sounds very familiar, right? Banyak kok anak yang seperti itu. Bisa melanjutkan sekolah karena beasiswa. Jadi, apanya yang unik dengan sosok Aditya?
Ia kuliah di jurusan seni. Seperti biasa, kami suka bertukar informasi akun, saling mem-follow. Melihat IG Aditya…wow juga dengan karya-karya gambarnya. Otakku langsung berpikir : “Wah, darimana dia dapat bakat seninya, ya?”
Otomatis itu kutanyakan juga.
“Dapat bakat seni dari mana,Dek? Biasanya ada anggota keluarga yang punya darah seni kalau gini.”
“Dari ibu saya,” begitu kurang lebih jawab Aditya.
“Oh, Ibu kuliah seni juga? Atau pelukis, atau seniman?” tanyaku. Aku nggak bakal surprise kalau ternyata ibu Aditya punya sanggar seni, mengingat ketrampilan menggambar dan melukis Aditya yang bisa dilihat dari IG nya.
Tapi, tebakanku salah semua.
Ibunya bukan seniman. Bukan pelukis. Apalagi punya sanggar seni.
Tanpa malu-malu, Adita bercerita. Kisah singkat yang membuat kami terharu dan terkesan dengan perjalanan hidup pemuda sepertinya.
“Ibu saya adalah TKI yang bekerja di Taiwan. Bertahun-tahun beliau bekerja di sana, meninggalkan saya ketika kecil. Kalau Ibu rindu saya, ia akan menggambar. Ketika berkesempatan pulang ke Indonesia, Ibu akan membawa oleh-oleh gambar-gambarnya, lukisan-lukisannya.”

Airmataku tertahan, malu untuk tumpah. Tapi bisa kurasakan seorang ibu merindukan anaknya di tanah seberang, dan menumpahkan kerinduan itu lewat seni. Begitu terkesannya aku dengan Aditya, hingga aku minta izin untuk bisa meminta nomer WA ibunya. Kami pun saling berkenalan. Cerita ibu Aditya tak kurang mengesankan. Sebuah kisah yang akan membuat kita, akan terus memupuk impian tanpa pernah ragu Allah akan kabulkan.
“Dulu saya ingin jadi seniman. Tapi orangtua nggak boleh. Yah, kami dari keluarga gak punya, kok mau sekolah seni. Mau jadi apa,” kurang lebih begitu cerita ibu Aditya. “Saya malah harus kerja jadi TKI keluar negeri, karena tuntutan biaya. Siapa sangka, Allah menempatkan saya bekerja untuk merawat lansia. Dia ternyata pelukis!”
Di sini, saya menyadari bahwa Allah merekayasa sebuah garis takdir dengan kejutan yang kadang membuat kita terheran-heran.
“Ketika suatu saat melihat karya saya, Tuan saya bilang : harusnya kamu bisa jadi seniman hebat, ya.”
Pada akhirnya, Tuan Lansia Pelukis di Taiwan tersebut wafat, dan ibu Aditya tak lagi melanjutkan kontraknya. Sang ibu menjadi penjahit sekarang, dan mendorong putranya untuk melanjutkan studi setinggi mungkin. Yang tak terduga adalah : Aditya mendapatkan beasiswa kuliah di kampus yang memiliki jurusan seni.
Mungkin, ibu Aditya tak dapat membangun mimpinya. Tapi semenjak Aditya kuliah seni, ia seolah hidup di kesempatan kedua yang tak pernah dimilikinya sebelumnya.
Aku masih ingat, mamaku pun dulu ingin jadi jurnalis. Tapi karena beliau anak yatim sejak kecil, selalu sekolah gratisan dengan beasiswa. Akhirnya mama kuliah SAA – sekolah jurusan farmasi – hingga menjadi apoteker lulusan UGM. Mama sempat bilang bahwa beliau sama sekali gak suka dengan dunia farmasi, tapi sudah terlanjur masuk ke dalamnya.
Mendengarku jadi penulis, mama senang sekali. Ia membaca buku-bukuku. Kalau aku sedang keluar kota, selalu bertanya : “Kamu itu diundang sebagai penulis atau acara parenting, gitu?”
“Penulis, Ma,” jawabku, jika memang acara literasi
Beliau terlihat gembira dan berseri-seri.
Tak semua mimpi2ku di masa kecil pun terwujud. Ada beberapa yang belum tercapai. Semenjak bertemu dengan kisah Aditya dan ibunya, harapanku kembali bersemi. Apapun impian itu, tak pantas untuk dipadamkan begitu saja. Bukankah Allah juga yang memberikan ilham-ilham kebaikan pada kita dan memberikan kesempatan-kesempatan unik?


