Kenapa jadi psikolog?
Dosenku pernah berkelakar , “ Kalian gak kenyang masalahkah? Kok masih nyari masalah orang lain?”
Terus terang, aku kuliah psikologi gak sengaja.
Awalnya, mau lanjut kuliah sastra karena aku suka banget nulis. Tapi suamiku bilang
“Kuliah psikologi aja. Supaya bisa punya ilmu untuk keluarga, untuk mendidik anak-anak.”
Meski berat hati pada awalnya, aku mengiyakan permintaan suamiku. Toh selain suka menulis, aku suka sekali mendengarkan keluh kesah orang. Gak tau kenapa, naturally sejak dulu banyak yang suka curhat ke aku.
Semester awal kuliah S1 psikologi, materi materi dasar kudapat. Agama, bahasa Indonesia, ilmu alamiah dasar, ilmu budaya dasar dan lain sebagainya. Tentunya juga pengantar psikologi. Disinilah awal pemahamanku. Bahwa psikologi sejak abad XVIII mulai diupayakan sebagai ilmu sains. Ilmu jiwa menjadi ilmu berdasarkan pengukuran- pengukuran saintifik sebagaimana ilmu-ilmu yang lainnya. Di abad tersebut, ilmu jiwa dianggap sebagai ilmu tak kasat mata yang lebih berafiliasi kepada masalah kerasukan dan dunia perdukunan.
Mata kuliah yang kusukai

Bisa dibilang semua sih.
Tapi tentu ada yang sangat kusukai. Salah satunya psikodiagnostik. Bagaimana mendiagnosis seseorang lewat berbagai macam asesmen. Observasi, wawancara, rangkaian alat tes, dll. Kalau pernah dengar tentang tes gambar atau tes grafis, yup , itu salah satu mata kuliah favoritku.
Suatu ketika saat magang, aku mendapatkan klien skizofrenia. Meski sudah terdiagnosis skizofren, kami tetap harus melakukan asesment dari pengalaman sendiri. Aku memberikan tes gambar grafis kepadanya. Karena saat itu aku belum pengalaman, aku banyak berkonsultasi dengan dosen pengajar. Pak HP namanya. Inisial saja ya. Beliau salah satu dosen favoritku.
Pak HP berkata : “Sin, aku duga klienmu bukan skizofren. Ia cenderung ke depresi berat.”
Aku awalnya gak percaya.
Si X ini jadi pasien karena berbagai perilaku aneh : suka mengamuk, suka azan di waktu gak tepat – misal tetiba azan di masjid jam 9 pagi.
Ketika aku ajak wawancara, masih nyambung meski sesekali . Bacaan Qurannya fasih dan ia sering jadi imam di sel rumah sakit jiwa.
Rasa penasaranku muncul.
Apakah benar ia skizofrenia? Atau seperti kata pak HP bahwa dia sebetulnya depresi berat hingga mirip orang kehilangan akal? Jika skizofrenia, kemungkinan ada banyak batasan dalam hidupnya. Jika depresi, ia bisa menjalani kehidupan normal setelah periode itu terlalui. Sayang sekali jika ia sebetulnya normal, namun dalam satu periode hidupnya seperti orang gak punya akal lantaran sedang terbentur banyak masalah dan buntu solusi; kemudian harus terlabeli sebagai penyandang skizofrenia.
Kucoba temui orangtuanya dan ajak berdiskusi. Dari situ aku mulai melihat akar masalah.
Si X ini berasal dr keluarga tradisional Kediri, 6 bersaudara. Ibunya bercerita bahwa semua anaknya (literally semua anak, berarti 6 anak) sekolah di pondok pesantren yang ketat. Sangat ketat bahkan.
“Sudah tradisi,” kata si ibu jujur. “Toh semua saudaranya sekolah di sana.”
Padahal saat aku menggali informasi dan ngobrol dengan si X dia bilang bahwa dia sukaaa sekali bahasa Inggris dan sepak bola. Dia tidak terlalu suka pelajaran agama. Yang lebih memprihatinkan lagi, ini X ini jenis orang yang lembut dan tidak tega pada pihak lain. Apalagi pada orangtuanya. Ia sangat menyayangi orangtuanya, ingin membuat mereka bangga, dan sangat takut jika menyakiti hati ayah ibunya!
Kurang lebih demikian isi percakapan kami
“Kenapa kamu gak ngomong ke orangtua?”
“Takut durhaka.”
“Apa cerita ke pesantren?”
“Takut sama ustadznya. Sama pak kiainya.”
Dari tes-tes yang lain ia memang memberikan narasi bahwa orang-orang di lingkungan pesantrennya serupa monster yang menakutkan, terutama ustadz dan pak kiainya.Tentu, ini bisa jadi persepsi si X saja karena ia sudah punya hambatan sejak awal. Saudara-saudaranya yang lain tidak memiliki masalah sekolah di pesantren tersebut.
Dosen saya, pak HP menekankan bahwa si X ini depresi. Ada kemungkinan ia sembuh dan tidak relapse jika lingkungan mendukung.
Aku berkontak dengan X dan orangtuanya. Aku berdiskusi dengan orang tuanya secara rutin. Kujelaskan kondisi X sesuai hasil asesement ku dan syukurlah, orangtuanya belajar memahami. Sempat tergurat kekecewaan besar di wajah mereka ketika tahu bahwa anaknya menolak pesantren yang selama ini sudah menjadi kebanggaan keluarga tersebut. Namun cinta orang tua yang besar pada anak, mengalahkan ego tersebut.
Hari demi hari berlalu. X akhirnya boleh pulang. Kami tetap saling berkontak dan bertukar kabar. Beberapa waktu berlalu. Suatu saat, ayah X mengontakku.
“X sudah sembuh, Bu. Sekarang dia ngajar dan menikah.”
X tidak lagi dipaksa hidup di pesantren. Ia dibiarkan memilih untuk menekuni hidup seperti apa.
Tebakan dosenku, pak HP benar. X depresi berat karena tuntutan orangtua dan lingkungan pesantren pilihan orangtuanya sangat keras dan ortodoks. Memang, pesantren itu banyak melahirkan ustadz tapi si X gak cocok di sana. Periode ketika ia mengamuk sampai hilang akal adalah saat benar-benar tertekan dengan kondisi pesantren, tuntutan orangtua dan juga tekanan dari para ustadznya. Ini bukan untuk mencela pesantren, ya. Kemungkinan, X tidak depresi jika dimasukkan ke pesantren alam atau yang banyak mengarahkannya pada ketrampilan taktis.
Aku berharap bisa memiliki ketrampilan seperti pak HP dimana lewat gambar, bisa menyimpulkan dengan segera apa permasalahan yang sebetulnya dimiliki klien. Menurutku, bagian penting dari ilmu psikologi adalah membantu seseorang benar-benar mengetahui profil kepribadian dan potensi dirinya. Dengan begitu orang yang punya masalah akan tahu kekuatan dirinya dan melihat peluang solusi.
Psikolog, dukun, peramal

Ada banyak kisah tentang anak, remaja, pernikahan, orangtua yang luarbiasa. Bagian paling membahagiakan ketika aku bisa membantu pasangan untuk rukun, orangtua untuk lebih memahami anak, atau remaja menemukan jati diri nya.
Ada anak-anak super genius yang sangat gelisah dengan dirinya, begitu juga orangtuanya tak kurang gelisahnya melihat potensi anaknya berbenturan dengan berbagai kendala. Sangat melegakan ketika aku bisa memberikan edukasi sesuai dengan laporan assessment, tentang bagaimana anak anak memiliki potensi terselubung sehingga orangtua lebih menghargainya dan bisa memaksimalkan potensinya.
Dari dunia psikologi aku belajar observasi, belajar wawancara, belajar menganalisa seseorang lewat kalimat-kalimat yang ia sampaikan, lewat goresan tangan yang ia gariskan. Sering banget orang yang bertanya.
“Jadi, bisa langsung ngerti orang itu kayak apa, ya?”
Ohooo bukan begitu, Ferguso!
Aku bukan peramal yang bisa ngerti orang ini lagi punya masalah apa. Tapi berkubang dalam dunia ini membuatku akhirnya menguasai berbagai teori tentang manusia dan juga cara memahaminya lewat berbagai alat. Aku jadi paham kenapa polisi, detektif, mata-mata, rohaniawan seperti ustadz dan kiai, guru dan dosen; bisa cepat mengenali orang di depan mereka. Karena mereka begitu sering berinteraksi dengan manusia yang memliki spesifikasi yang mirip.
Makanya dulu pas anak-anakku kecil, aku punya langganan dokter anak yang sudah senior dan sepuh banget. Hanya dengan melihat anakku sekilas beliau sudah bisa menebak : “Bu, anaknya rawat inap ya.” Bahkan ia belum menyentuh anakku, tapi sudah punya pengalaman melihat kulit, mata dan raut muka anakku yang kemungkinan dehidrasi berat.
Sekarang aku juga punya kemampuan berdasarkan pengalaman.
“Anda anak pertama ya?” Tanyaku.
“Lho, kok Ibu tahu?” Mereka balik terheran, karena belum cerita apa-apa tentang keluarga mereka
Kalau orang gak paham, situasi ini sering disalah pahami bahwa psikolog sama dengan dukun, peramal, orang yang bisa memprediksi masa depan. Padahal enggak sama sekali! Aku bisa menebak si dia anak pertama atau bungsu, atau anak tengah; dari pengalaman berinteraksi dengan orang lalu memahami bagaimana urutan kelahiran bisa membuat orang memiliki sikap tertentu di tempat kerja dan sekolah, terhadap teman-teman, atau terhadap pasangannya.
Next aku ceritakan apa saja keunikan menjadi psikolog, ya!

