Jujur saja, aku ingin kaya.
Bebas finansial, bisa beli barang dan pergi kemanapun tanpa harus berpikir berapa harganya. Tidak harus berpilir : Ada yang lebih murah? Ada yang lebih ekonomis? Apakah ini pantas buatku?
Ya.
Aku ingin kaya.
Bisa berbagi pada sesama tanpa harus berpikir bahwa aku masih punya hutang. Masih ada cicilan. Masih ada tanggungan. Tapi sampai sekarang aku belum kaya seperti penulis yang punya penghasilan besar macam Dan Brown dan JK Rowling.
Kok aku gak berhenti saja?
Mending jualan online atau buat pelatihan-pelatihan yang lebih menjanjikan. Nyatanya, aku terus menulis meski kekayaan besar berupa financial freedom belum kunjung datang!
Ternyata, ada beberapa dampak yang muncul setelah aku menulis lebih dari 20 tahun. Ya. 20 tahun lebih aku menulis. Apa saja dampak yang muncul?
- Menamatkan kuliah
- Belajar di luar passion
- Mengasah skill baru
- Sumber penghasilan lain
- Keberanian bertualang

Menamatkan kuliah.
Aku menikah di usia muda, 20 tahun. Berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain mengikuti suami. Kehidupanku sebagai istri dan ibu lumayan menyenangkan. Anak-anakku lucu, suamiku humoris dan suka membantuku. Pendek kata, tidak ada yang perlu dikeluhkan dari kehidupanku di awal menikah.
Tapi memang aku suka menulis. Seiring usia pernikahanku bertambah, ada beberapa masalah datang dan kulampiaskan dengan cara menulis. Emosi negatif keluar dari pikiranku, bebanku berkurang dan rasanya ada kekosongan yang menenangkan.
Ternyata menulis mendorongku untuk meraih hal lain : akademik. Saat menikah beberapa studiku terbengkalai. Aku pernah ambil kuliah di UT (universitas terbuka) tapi tak selesai. Kuliah akuntansi juga tak selesai di salah satu sekolah kedinasan bergengsi di Indonesia.
Ketika pindah ke Surabaya, Jawa Timur tahun 2007, posisiku telah memiliki 4 orang anak. Aku lalu mendaftar kuliah swasta fakultas psikologi, jenjang S1. 4 tahun selesai, lanjut S2. Aku belajar di Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya. Menurutku, kampusku ini adalah salah satu kampus terbaik dengan dosen-dosen yang sangat supportif.
Menjadi penulis ternyata mendorongku untuk ingin belajar dan terus belajar. Alhamdulillah, S1 dan S2 kuselesaikan dengan nilai yang sangat baik.
Belajar di luar passion
Aku suka menulis.
Aku suka menggambar.
Aku suka musik dan film.
Jujur, aku tidak terlalu suka di tengah kerumunan. Social batteryku cepat habis. Aku bukan bintang pesta dan sangat sulit untuk bisa langsung mencari teman baru.
Introvert?
Yup.
Very introvert.
Temanku tak banyak. Kalau dipikir-pikir, teman baikku sejak kecil hingga dewasa bisa dihitung dengan jari.
Menjadi penulis, banyak hal harus diterobos. Ketika menulis buku aku adalah introvert. Ketika buku terbit, aku dituntut untuk berperilaku seperti mereka yang ekstrovert : mudah bergaul, kenal banyak orang, bisa tampil di panggung dan suka kerumunan.
Aku harus promosi buku, bedah buku, bicara tentang proses kreatif. Ups…aku gemetaran pada awalnya. Tampilan di atas panggung mengecewakan. Latihan di depan cermin berantakan ketika audience tampak bosan, bolak balik mengecek jam dan berbincang dengan temans

Aku tidak cocok jadi pembicara! 😭😭😭
Tapi akhirnya, setapak demi setapak , rasa tidak nyaman itu kulalui. Bagaimana lagi? Aku kan harus promosi buku-bukuku supaya orang mau beli karyaku.
Aku harus belajar bicara.
Aku harus belajar menaklukan rasa gugup.
Aku harus bisa menguasai panggung.
Bicara di depan khalayak ramai yang bukan teman-temanku, it’s not my passion. Tapi pada akhirnya aku bisa…
Mengasah skill baru
Aku cuma suka nulis.
Cuma itu😭😭😭.
Bicara di depan umum sudah cukup melelahkan. Memasarkan bukuku sendiri? Oh Tuhan…itu derita berkepanjangan!
Aku tak bisa memengaruhi orang.
Aku jelek kalau disuruh jualan.
Aku susah meyakinkan pihak lain.
Bagaimana bisa mengajak orang beli bukuku?

Tapi disinilah seni menjadi penulis.
Aku belajar hal baru : berbisnis.
Awalnya aku hanya tahu pebisnis besar macam Chairul Tanjung, Bob Sadino (Indonesia). Lama-lama aku jadi tahu bahwa temanku berbisnis. Tetanggaku berbisnis. Saudaraku berbisnis. Banyak orang telah berbisnis dan semua berawal dari 0. Jadi, aku mulai berjualan buku-bukuku. Lewat online, lewat berbagai acara. Kadang ada yang beli, kadang di sebuah event bukuku tak laku sama sekali. Skill ini bermanfaat sekali bagiku karena aku belajar bagaimana cara promosi, memasarkan, melihat celah keuntungan, memprediksi kerugian.
Sumber penghasilan lain
Royaltiku di awal buku baru terhitung lumayan. Namun seiring tahun berjalan, jumlahnya makin kecil. Kadang tak sampai Rp 50,000 rupiah atau kurang dari $3 selama enam bulan. Tentu tak cukup untuk mendanai berbagai macam kebutuhanku. Meski suamiku adalah tulang punggung keluarga, tetap saja aku butuh untuk berbagai keperluan pribadi.
Mengandalkan royalti tentu tak akan cukup. Syukur alhamdulillah, ketika namaku makin dikenal sebagai penulis, aku mendapatkan berbagai macam jobs yang bersumber dari dunia kepenulisan.
Beberapa pekerjaan tersebut adalah :
- Menjadi editor
- Memberikan endorsement
- Menjadi juri lomba menulis
- Mengisi seminar
- Menjadi mentor menulis
Keberanian bertualang
Aku tuh penakut bangettt.
Kalau malam sudah datang, aku takut gelap. Aku takut hewan-hewan kecil seperti kelabang dan kalajengking. Aku bahkan takut hantu dan setan hehehe. Mungkin, karena suka baca dan nonton film thriller; suka dihantui perasaan bahwa aku bakal jadi korban berikut. Naudzubillahi mindzalik. Aku berlindung kepada Allah dari hal-hal buruk seperti itu.
Pernah suatu ketika, aku diundang acara bedah buku Reinkarnasi, bukuku yang bertema supranatural. Kupikir, aku dan panitia akan berada di tempat yang sama pada malam harinya. Ternyata, panitia menyewakan untukku sebuah pavilion. Tempatnya bagus, asri di tengah taman dan kebun yang ….sepi! Aku memohon panitia untuk menemani, tapi mereka menolak karena pemesanan hanya untuk 1 orang saja!
Semalaman aku tak bisa tidur karena ketakutan. Televisi tetiba menyala sendiri. Kasur seolah bergerak dan air kran kamar mandi pun entah mengapa seolah ada yang memainkan. Meski ketakutan, toh malam itu aku selamat dan besok pagi tak kehilangan nyawa.
Menjadi penulis membuatku berani menempuh perjalanan sendiri ke luar kota. Menginap di satu tempat, bahkan sampai keluar negeri.
Jadi ternyata, sekian banyak hal selain uang yang bisa kuraih dari menulis.
Itulah sebabnya aku tetap bertahan di dunia kepenulisan.
Uang ternyata bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan bagi penulis. Semoga kalian yang ingin jadi penulis, tetap semangat, ya!

