Menghafal Al Baqarah
Dusta Putih, Cantik Merona, Aura Quran
Asyik & seru nya menghafal Quran!
Cerita Anak & Al Baqarah
Mau Rezeki Lebih Baik : Jodoh, Peluang Rezeki? Sstt, Coba Hafalkan Quran!
Mau Rezeki Lebih Baik : Jodoh, Peluang Rezeki? Sstt, Coba Hafalkan Quran!
Memory ini cukup lama mengendap, sayangnya tidak kutuliskan, hingga sanad dan siapa yang meriwayatkan aku lupa. Tetapi inti ceritanya insyaAllah masih terekam jelas. Dialog dan alur cerita, aku luweskan agar lebih mudah dimengerti.
1. Ibu dengan 7 anak yang menghafal Quran, rezeki tak disangka!
Ustadzah Yoyoh Yusroh dan aku : Impian kami tentang Gaza
Ustadzah Yoyoh Yusroh dan aku : Impian kami tentang Gaza
Pertama kali bertatap muka, adalah ketika aku dan suami masih tinggal di Medan, sekitar tahun 1995.
Ustadzah datang atas undangan sebuah acara, dengan segala kesederhanaannya beliau bercerita tentang da’wah. Aku sempat bertanya, bagaimana anak-anak jika ditinggalkan untuk berda’wah? Bukankah sebagai ibu kita juga harus mengawasi anak-anak?
Aku masih ingat betul nasehat beliau, kurang lebih demikian : “…..kalau kita titipkan pada Allah SWT, insyaAllah akan dijaga.”
Apa yang menjadi keyakinan beliau, terbukti. Berapa banyak anak yang ditunggui ibunya, tapi tidak tumbuh dalam keimanan? Beliau meninggalkan anak-anaknya untuk urusan da’wah dan insyaAllah, anak-anak beliau tumbuh dengan baik. Tentu, pendapat ini bukannya menghimbau semua muslimah keluar rumah, tetapi ketika panggilan da’wah adalah keharusan dan tidak ada orang lain, maka kemana lagi menitipkan keluarga dan anak-anak jika bukan kepada Yang Maha Penjaga?
Kelas Tahsin? Ih, memalukan…..!
Setiap pagi, anak-anak kuminta setor hafalan.
Nis masih di juz 30, Ahmad masuk juz 29 sementara Ayyasy juz 1. Inayah sendiri kuberi dispensasi sebab di kelas 3 SMP kesibukannya terlalu padat. Setidaknya, setiap malam dan ba’da Shubuh kuminta anak-anak meramaikan rumah dengan bacaan Quran.
Aku sendiri termasuk orang yang suka menghafal, terutama untuk surat-surat yang terkait dengan amal sholih dan jannah-jahannam. Setiap pagi atau sore, sembari menyusuri jalan Nginden-Bratang-Ngagel-Pucang- hingga sekolah Inayah lalu kembali ke rumah kami di daerah Rungkut; kulafazkan Sab’atul Munjiat. Membaca Quran sepanjang jalan kuharap bisa menenangkan fikiran agar tak gugup saat melintasi padat nya lalu lintas Surabaya.


