Basyir yang Buta & Pak Luthfi Hasan Ishaaq
Catatan Akhir Tahun 2011 (II) Great Mother, Great Generation ~ catatan manis dari Trenggalek
Menggagas Sekolah Pra Nikah (Republika, 21 Desember 2011~Sinta Yudisia)
Bedah Buku Takhta Awan di Probolinggo :Sisi Positif (dan Negatif) Menulis -MIggu 18/09/11
Bedah Buku Takhta Awan di Probolinggo :
Sisi Positif (dan Negatif) Menulis
Adakah sisi negative seorang penulis?
Tentu ada.
Saat menulis , dikejar deadline, ide pas lagi muncul….wah, nevermind pekerjaan lain. Malas keluar rumah, ngobrol sama tetangga. Maunya bercengkrama dengan laptop melulu. Bukan hanya itu. Kondisi fisik menurun, malam-malam berlalu tanpa istirahat, pembuluh darah membengkak baik di kaki maupun di bagian (maaf : belakang). Meja kerja berantakan, tak menjawab SMS apalagi telefon yang masuk.Ada yang mau main ke rumah? Aduuh, jangan dulu deh. Lagi dikejar deadline, ntar editor ngamuk atau pendaftarann lomba tutup!
Selalu ada sisi negative meski tak sama.
Tetapi banyak pula sisi positif.
Siapakah Agus Sofyan, di balik FLP Jawa Timur?
Aneh rasanya, jika saya pada akhirnya tidak memperkenalkan sosok yang satu ini, setelah saya menuliskan tentang Lutfi Hakim alias Adam Muhmmad. Sungguh, bukan kampanye premature atau penggalanganmassa. Saya sering merasa sangat berterima kasih kepada para Maskulin di FLP : ustadz Fathoni, ustadz Syukur Mirhan, Aferu Fajar, Faishal, Syahrizal, Faris Khoirul Anam, Mashdar Zainal, Lukman Hadi, Muhsin, mas Bahtiar, mas Haikal…(mohon maaf jika ada yg lupa). Kalau kaum Feminin di FLP sangat banyak, bahkan FLP sempat dijuluki Forum Lingkar Perempuan. Maka kaum Maskulin di FLP ibarat penguat sendi2 FLP alias masih ada tenaga untuk dimintai angkut-angkut barang atau antar jemput kesana kemari 😀
Suatu saat, ada acara ke yogya.
Seorang teman muslimah pernah bertanya bertahun lalu : ”…suami mbak gakpapa mbak pergi jauh tanpa anak-anak sama sekali?” begitulah kira-kira.
Tanpa diminta, sang muslimah tersebut bercerita bla-bla-bla tentang suaminya.
Enaknyaaaaa….
“Wah, pak Agus tuh setia banget ya, nganter jemput bu Sinta.”
“Aku mau juga punya suami kayak gitu!”


