Bedah Buku Takhta Awan di Probolinggo :Sisi Positif (dan Negatif) Menulis -MIggu 18/09/11
Bedah Buku Takhta Awan di Probolinggo :
Sisi Positif (dan Negatif) Menulis
Adakah sisi negative seorang penulis?
Tentu ada.
Saat menulis , dikejar deadline, ide pas lagi muncul….wah, nevermind pekerjaan lain. Malas keluar rumah, ngobrol sama tetangga. Maunya bercengkrama dengan laptop melulu. Bukan hanya itu. Kondisi fisik menurun, malam-malam berlalu tanpa istirahat, pembuluh darah membengkak baik di kaki maupun di bagian (maaf : belakang). Meja kerja berantakan, tak menjawab SMS apalagi telefon yang masuk.Ada yang mau main ke rumah? Aduuh, jangan dulu deh. Lagi dikejar deadline, ntar editor ngamuk atau pendaftarann lomba tutup!
Selalu ada sisi negative meski tak sama.
Tetapi banyak pula sisi positif.
Siapakah Agus Sofyan, di balik FLP Jawa Timur?
Aneh rasanya, jika saya pada akhirnya tidak memperkenalkan sosok yang satu ini, setelah saya menuliskan tentang Lutfi Hakim alias Adam Muhmmad. Sungguh, bukan kampanye premature atau penggalanganmassa. Saya sering merasa sangat berterima kasih kepada para Maskulin di FLP : ustadz Fathoni, ustadz Syukur Mirhan, Aferu Fajar, Faishal, Syahrizal, Faris Khoirul Anam, Mashdar Zainal, Lukman Hadi, Muhsin, mas Bahtiar, mas Haikal…(mohon maaf jika ada yg lupa). Kalau kaum Feminin di FLP sangat banyak, bahkan FLP sempat dijuluki Forum Lingkar Perempuan. Maka kaum Maskulin di FLP ibarat penguat sendi2 FLP alias masih ada tenaga untuk dimintai angkut-angkut barang atau antar jemput kesana kemari 😀
Suatu saat, ada acara ke yogya.
Seorang teman muslimah pernah bertanya bertahun lalu : ”…suami mbak gakpapa mbak pergi jauh tanpa anak-anak sama sekali?” begitulah kira-kira.
Tanpa diminta, sang muslimah tersebut bercerita bla-bla-bla tentang suaminya.
Enaknyaaaaa….
“Wah, pak Agus tuh setia banget ya, nganter jemput bu Sinta.”
“Aku mau juga punya suami kayak gitu!”
Suhu Beladiri :Salah Satu Pembicara Bedah Buku Takhta Awan
Suhu Beladiri :
Salah Satu Pembicara Bedah Buku Takhta Awan

Siapa pembicara dalam acara bedah buku Takhta Awan?
Mungkin teman-teman penulis, pembaca dan rekan-rekan FLP belum mengenal Mas Mochamad Amien, atau lebih sering dipanggil mas Amien. Mungkin juga bertanya, mengapa pembicara kali ini jauh dari dunia literasi?
Mas Amien salah satu guru (atau biasa dunia kang-ouw memanggil ‘suhu’) dalam beladiri asliIndonesia, silat. Keahlian beladirinya menyebabkan beliau melanglang mancanegara dan kelilingIndonesia.China,Tajikistan,Uzbekistan, benua Eropa. Selain kelilingIndonesiatentunya. Mas Amien pernah cukup lama berkecimpung sebagai wartawan, bergabung bersama salah satu televisi swasta terkenal. Ia pengamat sejarah, terutama yang berkaitan dengan sejarah beladiri, terutama beladiri yang diusung para pendekar muslim.
Return of The Condor Heroes & Kitab Zodam
“Kekejaman” Editor : TAKHTA AWAN!
“Kekejaman” Editor : TAKHTA AWAN!
Januari 2011 naskahku selesai.
Dan ….cukup lama, sang editor membedah karyaku.
“Mbak…sudah baca Orchid Empress?”
Belum, jawabku.
“Baca ya…,” sarannya,” sangat emosional.”
Januari. Februari. Maret.
EXISTERE di acara World Book Day, 23 April 2011 : Peta Prostitusi dan Penyebab timbulnya PSK Jalanan & PSK elite
EXISTERE di acara World Book Day, 23 April 2011 : Peta Prostitusi dan Penyebab timbulnya PSK Jalanan & PSK elite
Silakan membaca ulasan di bawah . Lebih dari mengernyitkan dahi, semoga kita dapat merenung dan mengambil langkah-langkah tepat bagi bangsa ini.
Suatu kehormatan tersendiri ketika YPPI (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia) meminta buku Existere dibedah pada acara World Book Day. Sekali lagi, banyak ilmu yang didapat dari acara sharing/diskusi macam ini. Bukan itu saja, semangat untuk menulis terpompa tiap kali buku kita mendapat apresiasi dan kritik.
Peta Prostitusi & Penyebab
PRO KONTRA PENUTUPAN DOLLY : BEDAH EKSKLUSIF BUKU EXISTERE BERSAMA TOKOH FEMINIS, LSM HIV /AIDS, PEKERJA SEKS, PEMERINTAH TERKAIT
Sssst, ada EXISTERE di KOMPAS Minggu 17 Oktober 2010
ilham khoiri
Dulu kover atau sampul buku di Indonesia nyaris hanya menjadi sarana memajang judul saja. Seiring perkembangan teknologi cetak dan visual, sampul buku kian beragam sesuai selera desainer dan penerbit.
Lihat saja kover novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka kita, yang diterbitkan ulang oleh Lentera Dipantara tahun 2006. Buku ketiga dari tetralogi karya Pulau Buru ini pernah diterbitkan Hasta Mitra tahun 1980-an dan dilarang pada zaman Orde Baru.
Sampul itu berwarna coklat pastel dengan fokus seorang laki-laki sedang mengetik. Latar belakangnya, sebuah bangunan dengan sejumlah orang sibuk berdiskusi. Samar-samar terselip juga halaman koran Medan Prijaji.




