Catatan Akhir Tahun 2011 (I) Cerpen Pertamaku : Penulis Tanpa Modal
Menggagas Sekolah Pra Nikah (Republika, 21 Desember 2011~Sinta Yudisia)
Juara I Lomba Essay Palestina 2011
Siapakah Agus Sofyan, di balik FLP Jawa Timur?
Aneh rasanya, jika saya pada akhirnya tidak memperkenalkan sosok yang satu ini, setelah saya menuliskan tentang Lutfi Hakim alias Adam Muhmmad. Sungguh, bukan kampanye premature atau penggalanganmassa. Saya sering merasa sangat berterima kasih kepada para Maskulin di FLP : ustadz Fathoni, ustadz Syukur Mirhan, Aferu Fajar, Faishal, Syahrizal, Faris Khoirul Anam, Mashdar Zainal, Lukman Hadi, Muhsin, mas Bahtiar, mas Haikal…(mohon maaf jika ada yg lupa). Kalau kaum Feminin di FLP sangat banyak, bahkan FLP sempat dijuluki Forum Lingkar Perempuan. Maka kaum Maskulin di FLP ibarat penguat sendi2 FLP alias masih ada tenaga untuk dimintai angkut-angkut barang atau antar jemput kesana kemari 😀
Suatu saat, ada acara ke yogya.
Seorang teman muslimah pernah bertanya bertahun lalu : ”…suami mbak gakpapa mbak pergi jauh tanpa anak-anak sama sekali?” begitulah kira-kira.
Tanpa diminta, sang muslimah tersebut bercerita bla-bla-bla tentang suaminya.
Enaknyaaaaa….
“Wah, pak Agus tuh setia banget ya, nganter jemput bu Sinta.”
“Aku mau juga punya suami kayak gitu!”
Suhu Beladiri :Salah Satu Pembicara Bedah Buku Takhta Awan
Suhu Beladiri :
Salah Satu Pembicara Bedah Buku Takhta Awan

Siapa pembicara dalam acara bedah buku Takhta Awan?
Mungkin teman-teman penulis, pembaca dan rekan-rekan FLP belum mengenal Mas Mochamad Amien, atau lebih sering dipanggil mas Amien. Mungkin juga bertanya, mengapa pembicara kali ini jauh dari dunia literasi?
Mas Amien salah satu guru (atau biasa dunia kang-ouw memanggil ‘suhu’) dalam beladiri asliIndonesia, silat. Keahlian beladirinya menyebabkan beliau melanglang mancanegara dan kelilingIndonesia.China,Tajikistan,Uzbekistan, benua Eropa. Selain kelilingIndonesiatentunya. Mas Amien pernah cukup lama berkecimpung sebagai wartawan, bergabung bersama salah satu televisi swasta terkenal. Ia pengamat sejarah, terutama yang berkaitan dengan sejarah beladiri, terutama beladiri yang diusung para pendekar muslim.
Return of The Condor Heroes & Kitab Zodam
FLP Mengajari, Mendidik, Membantuku Menjadi Penulis Seperti Sekarang
FLP Mengajari, Mendidik, Membantuku Menjadi Penulis Seperti Sekarang
Seperti yang sudah lazim diketahui orang. Bakat 1 %, sisanya kerj keras. Menjadi penulis pun begitu. Banyak orang bertanya : saya gak punya bakat tapi suka nulis, bagaimana caranya? Sama seperti para penulis lain, saya pun kebingungan. Gimana sih cara nulis yang baik, yang bisa tembus media, yang memberi kesan mendalam pada pembaca? Saya emang suka nulis, tapi kan cuma diary. Trus corat coret di kertas atau buku bekas. Waktu itu masih ada majalah Annida. Rasanya pasti…..bangga kalau nama kita dan cerpen tertera di situ. Bangga bahwa dalam hidup ini, jejak kita, pemikiran, memberi manfaat buat orang lain. Harap-harap cemas, saya rajin mengirim ke Annida baik cerpen ataupun lomba. Alhamdulillah menang 2x, beberapa cerpen pun dimuat. Lalu sesudahnya? Timbul pertanyaan-pertanyaan. Mending nulis kumpulan cerpen atau kirim cerpen-cerpen ke majalah/media? Mending nulis puisi? Mending nulis novel? Mending nulis non fiksi atau fiksi? Sebetulnya…..saya itu bisanya nulis apa siiiiih?
Akhirnya…bergabunglah di FLP. FLP, tempat saya bergabung karena disitu berisi para penulis capable, ternyata memberi banyak pembelajaran.
Pembelajaran pertama.
Mau Rezeki Lebih Baik : Jodoh, Peluang Rezeki? Sstt, Coba Hafalkan Quran!
Mau Rezeki Lebih Baik : Jodoh, Peluang Rezeki? Sstt, Coba Hafalkan Quran!
Memory ini cukup lama mengendap, sayangnya tidak kutuliskan, hingga sanad dan siapa yang meriwayatkan aku lupa. Tetapi inti ceritanya insyaAllah masih terekam jelas. Dialog dan alur cerita, aku luweskan agar lebih mudah dimengerti.
1. Ibu dengan 7 anak yang menghafal Quran, rezeki tak disangka!
“Kekejaman” Editor : TAKHTA AWAN!
“Kekejaman” Editor : TAKHTA AWAN!
Januari 2011 naskahku selesai.
Dan ….cukup lama, sang editor membedah karyaku.
“Mbak…sudah baca Orchid Empress?”
Belum, jawabku.
“Baca ya…,” sarannya,” sangat emosional.”
Januari. Februari. Maret.
Ustadzah Yoyoh Yusroh dan aku : Impian kami tentang Gaza
Ustadzah Yoyoh Yusroh dan aku : Impian kami tentang Gaza
Pertama kali bertatap muka, adalah ketika aku dan suami masih tinggal di Medan, sekitar tahun 1995.
Ustadzah datang atas undangan sebuah acara, dengan segala kesederhanaannya beliau bercerita tentang da’wah. Aku sempat bertanya, bagaimana anak-anak jika ditinggalkan untuk berda’wah? Bukankah sebagai ibu kita juga harus mengawasi anak-anak?
Aku masih ingat betul nasehat beliau, kurang lebih demikian : “…..kalau kita titipkan pada Allah SWT, insyaAllah akan dijaga.”
Apa yang menjadi keyakinan beliau, terbukti. Berapa banyak anak yang ditunggui ibunya, tapi tidak tumbuh dalam keimanan? Beliau meninggalkan anak-anaknya untuk urusan da’wah dan insyaAllah, anak-anak beliau tumbuh dengan baik. Tentu, pendapat ini bukannya menghimbau semua muslimah keluar rumah, tetapi ketika panggilan da’wah adalah keharusan dan tidak ada orang lain, maka kemana lagi menitipkan keluarga dan anak-anak jika bukan kepada Yang Maha Penjaga?



