Kata-kata Ayah & Ibu yang Melukai Anak
Ada kalimat atau kata-kata tertentu yang tampaknya sepele, tapi kalau sering diucapkan, bisa meruntuhkan harga diri anak. Bukan hanya self esteem-nya aja yang menguap, ia bisa jadi benci pada dirinya sendiri. Benci orangtuanya. Bahkan benci pada hidup ini dan Tuhan yang dianggap gak adil membagikan kasih sayang.
Kadang, kata-kata itu meluncur gak disengaja, terasa ringan di mulut. Melihat respon anak-anak –yang mungkin menangis, lari masuk ke kamar, dll– barulah tersadar kalau kata kita udah menyakiti mereka. Iya kalau sadar. Bagaimana kalau orangtua gak sadar kalau kata-kata, kalimat-kalimat yang dilontarkan sudah melukai perasaan dan harga diri seorang anak hingga begitu dalam?
Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Dari kesalahan itu kita belajar, supaya kesalahan itu gak bertambah-tambah.
Apa aja sih kata-kata yang bisa menyakiti anak?
1.Gini aja gak bisa?
Ada pekerjaan yang sepertinya gampang dilakukan. Pelajaran matematika seperti penjumlahan pengurangan, menyapu lantai, mencuci piring; umumnya orang bisa lakukan. Tapi ada anak-anak yang butuh waktu lebih untuk berlatih. Ketika ortu bilang “gini aja gak bisa” , seolah-olah anak-anak dituduh bahwa mereka gak mampu melakukan pekerjaan paling remeh sekalipun!

2. Kamu kayak anak autis, sih
Banyak orang beranggapan disorder(gangguan), uniqueness (keunikan); sebagai bahan candaan atau pelabelan atas suatu kekurangan. Anak yang gak cepat respon ketika dipanggil ortu dan ortu gemas, akan merasa tersinggung ketika ortu berteriak : kamu macam anak autis, sih! Gak bisa lihat tempat berantakan? Memangnya kamu low vision? Naudzubillah. Anak penyandang autism, low vision atau keistimewaan yang lain; tak ingin berada di dalamnya. Apalagi kondisi mereka dijadikan olok-olokan atau bahan pelabelan.
3. Kayak cewe gak bener!
Tertawa ngakak. Pakai kuteks warna warni. Blush on menyala. Lipstik menor. Jilbab yg masih memperlihatkan poni. Anak-anak cewe yang masih berusaha berjilbab dengan segala dinamikanya. Anak-anak cewe yang masih mencoba cari jatidiri. Ortu yang punya standar tertentu dalam hal agama lalu melabeli anaknya : panjangin jilbabmu! Kaya cewe gak bener!
Hati-hati dengan label ini. Anak kritis akan mencoba berpikir opposite – kalau jilbabnya panjang udah pasti bener? Gimana dengan temanku yang berjubah dan berjilbab panjang tapi pacaran? Jika ortu ingin meluruskan cara berdandan atau bersikap anaknya , cobalah bilang dengan perspektif lain : ih, kamu cantikan pake lisptik nude. Keliatan alami! Kamu kelihatan lebih sophisticated loh, kalau jilbabmu lebih panjang
4. Mau jadi apa kamu kalau kayak gitu?
Ngegame.
Nonton anime.
Terpukau drachin.
Idol kpop.
Semua kesukaan anak dinilai dengan satu kalimat : mau jadi apa kamu kalau kayak gitu? Dengan kalimat panjang ortu akan bilang bahwa semua kesukaan anakanaknya adalah sampah. Padahal, gak semua anime jelek. Gakuen Babysitter misalnya. Bercerita tentang kakak yang merawat adiknya gegara mereka yatim piatu. Atau tema sejarah seperti Grave of Fireflies. Drachin Under the Skin berkisah lika liku pelukis wajah penjahat. Kisah ini bisa menginspirasi pekerjaan-pekerjaan yang bernilai bagi manusia.
5. Hafalan Quranmu bisa hilang!
Mendengarkan musik, menikmati komik online atau buku komik, membaca kisah romance, menonton film cinta ; memang aktivitas yang sekilas bertentangan dengan cita-cita menjadi penghafal Quran. Tapi mengancam anak-anak bahwa aktivitas tertentu akan membuat hafalan mereka hilang, dapat memunculkan rasa pertentangan batin yang keras. Di satu sisi ingin taat ortu, ingin hafal quran, tapi juga ingin banyak tahu tentang berbagai hal, termasuk berpetualangan dalam imajinasi.
Pertentangan batin yang terus menerus akan memunculkan kegelisahan dalam diri anak. Ia akan jadi fatalis, atau sebaliknya, manipulatif.
Bagaimana jika ortu tetap meyakini bahwa ada hal-hal yang bertentangan dan tidak boleh saling bertolak belakang? Misal, musik VS hafalan Quran. Atau film, anime, komik, novel VS hafalan Quran. Solusinya : cari jalan tengah. Anak-anak didorong untuk menyukai hiburan yang bisa mendekatkannya dengan Quran. Movies, anime, komik tentang ilmu pengetahuan dapat menjadi pilihan. Cells at Work dan Dr. Stone adalah contoh anime yang dapat dipilih untuk anak-anak penghafal Quran. Jangan lupakan Journey atau Rihlah – anime khusus garapan Toei Animation yang berkisah tentang tentara Abrahah mencoba menghancurkan Mekkah!
6. Kamu selalu gak dengerin
Kata selalu seolah-olah membuat anak kita sepanjang waktu melakukan hal buruk yang dilabelkan pada dirinya, tanpa ada prosentase kebaikan yang pernah dilakukan. Padahal bisa jadi kali ini dia gak dengerkan kita. Kemarin, ia taat dan memenuhi perintah ortunya. Kata selalu akan membuatnya mudah mengeneralisir sesuatu, seperti ajaran ortunya. Semua temanku jahat, semua guruku gak adil, seluruh hodupku kesialan
7. Sampai kapan kamu kayak gini?
Ada nada keputus asaan dari kalimat ini. Seakan di titik ini, seorang anak sudah berada di titik maksimal dan gak akan berkembang lagi. Kalau dilanjutkan kalimat itu terasa seperti : sampai kapan kamu gak ngerti ortu, sampai kapan kamu berantem sama adikmu, sampai kapan sekolah/kuliahmu gagal terus?
8. Teman-temanmu bisa. Kok kamu enggak?
Dari satu circle pertemanan yang terdiri dari 10 anak, ternyata hanya 1 anak yg harus gap year dan itu anak kita! Hanya 1 anak yang belum lulus dan itu anak kita! Hanya 1 anak tersisa yang gak lolos tes dan itu anak kota! Sekilas kata-kata itu mengandung fakta : dari semua temanmu, cuma kamu yang gagal. Hal ini bisa memacu rasa frustrasi yang parah.

Yuk, sebagai orangtua kita coba belajar memilih kata-kata yang baik untuk anak-anak kita. Kalau mau, novel ini bisa jadi salah satu contoh gimana ortu bicara sama anak-anaknya.

